≡ Menu
hilmiaRIFIN

Welcome to Jakarta

in Personal

Tidak ada banyak waktu yang saya miliki untuk mempersiapkan keberangkatan ke Jakarta. Semuanya serba mendadak. Penerima beasiswa harus sudah mengikuti EAP tanggal 10 Maret padahal pengumuman baru keluar tanggal 4 Maret. Waktu yang begitu sempit pun tidak bisa saya manfaatkan untuk mengajukan banding ke Pusbindiklatren agar bisa pindah kuliah di Jogja.

Beruntung ketika mencari tiket kereta ke Jakarta, saya masih mendapatkannya, meskipun saat itu long weekend. Keberuntungan saya berlanjut, dari Jogja saya sudah bisa memesan kamar kos yang dekat dengan lokasi EAP, karena kebetulan ada saudara istri yang bisa mencarikannya. Sebenarnya sewa kosnya tidak murah, 650 ribu per bulan, tapi saya ambil dulu sambil nyari yang lebih murah, toh bayarnya juga bulanan.

Seminggu sudah saya di Jakarta. Perasaan tidak betah pun menghinggapi diriku. Setiap hari inginnya balik ke Jogja. Ingatan dan hati inipun merindukan istri yang baru 8 bulan kunikahi. Tentu dirinya juga merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih berat dariku. Tantangan pertama saya adalah berhadapan dengan tingginya biaya hidup di sini. Biaya kos di Jl. Salemba Tengah sebesar 650 ribu tapi sudah termasuk cuci dan setrika. Kalo mau makan tiga kali sehari saya harus merogoh kocek sebesar 20-25 ribu. Belum kebutuhan yang lain-lain, padahal beasiswa yang saya peroleh tak seberapa dan sangat mungkin tidak tepat waktu. Beruntung saya tidak perlu keluar ongkos transport, karena dari kos ke UI cukup jalan kaki.

Alhamdulillah ada mesjid di depan kos, sehingga saya bisa sholat berjamaah Maghrib, Isya dan Shubuh. Tidak ada kegiatan lain selain ke mesjid. Rutinitas saya seminggu ini dan mungkin minggu-minggu berikutnya adalah EAP dari jam 8 sampai 16, ke mesjid, dan makan. Kebiasaan ngeblog dan online earning sedikit terganggu, karena sinyal XL tidak begitu bagus di kamar kos. Akibatnya seminggu sudah blog ini tak terjamah dan mohon maaf karena banyak komentar serta email yang belum sempat saya balas.

Saya pun termenung, bisakah saya betah di Jakarta? Aku pun teringat kata seorang teman, “sungguh aneh orang yang bisa betah hidup di Jakarta”.

0 comments… add one

Leave a Comment

Next post:

Previous post: