<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>hilmiarifin &#187; Traveling</title> <atom:link href="http://hilmiarifin.com/tag/traveling/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://hilmiarifin.com</link> <description>sedekah pangkal kaya, berbagi pantang rugi</description> <lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 03:08:50 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator> <item><title>Pengalaman Membuat Paspor</title><link>http://hilmiarifin.com/pengalaman-membuat-paspor.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/pengalaman-membuat-paspor.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 04 Apr 2007 04:37:53 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Personal]]></category> <category><![CDATA[biaya paspor]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[News]]></category> <category><![CDATA[paspor]]></category> <category><![CDATA[Tips and Tricks]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category> <category><![CDATA[Traveling]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/blog/pengalaman-membuat-paspor/</guid> <description><![CDATA[Akhirnya keinginan untuk membuat paspor kesampaian juga. Keinginan untuk membuat paspor sebenarnya sudah lama direncanakan. Niat ini didorong oleh salah satu impian saya untuk mendapat beasiswa dan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Paspor memang hanya salah satu syarat kecil dari pengajuan beasiswa dan bisa dibuat setelah beasiswa diperoleh, namun beberapa beasiswa ada yang mensyaratkan paspor [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Akhirnya keinginan untuk membuat paspor kesampaian juga. Keinginan untuk membuat paspor sebenarnya sudah lama direncanakan. Niat ini didorong oleh salah satu impian saya untuk mendapat beasiswa dan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Paspor memang hanya salah satu syarat kecil dari pengajuan beasiswa dan bisa dibuat setelah beasiswa diperoleh, namun beberapa beasiswa ada yang mensyaratkan paspor sebagai persyaratan awal.</p><p><span
id="more-41"></span></p><p>Di tengah-tengah kesibukan merampungkan penyusunan <a
href="http://www.jogja.go.id" target="_blank">Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta Tahun 2007-2011</a>, saya menyempatkan diri untuk mendatangi <a
href="http://www.imigrasi.go.id/popUp.inc.php?go=kanim&#038;subgo=detail&#038;knmId=27" target="_blank">Kantor Imigrasi Yogyakarta</a>. Ada niatan sebelumnya untuk memanfaatkan jasa perantara, tapi saya urungkan setelah mengetahui biaya yang harus dibayar dan saya ingin mengetahui bagaimana proses serta pelayanan <a
href="http://www.imigrasi.go.id/" target="_blank">kantor imigrasi</a>. Melalui telpon, saya memperoleh keterangan tentang persyaratan dan biaya pembuatan paspor. Ternyata sangat mudah, murah dan cepat.</p><p><a
href="http://www.imigrasi.go.id/index.php?go=pelayanan&#038;pelIdnya=1" target="_blank">Dokumen</a> yang diperlukan untuk membuat paspor adalah akte kelahiran, KTP, kartu keluarga, ijazah terakhir, surat nikah bagi yang sudah menikah dan surat keterangan dari atasan bagi yang sudah bekerja. Sedang biaya pembuatan paspor sebesar 270 ribu rupian ditambah biaya formulir 7 ribu rupiah. Proses pembuatan paspor memakan waktu selama seminggu. Bandingkan dengan harga yang ditawarkan oleh salah satu penjual jasa pembuatan paspor di Jogja. Dia menawarkan tiga tingkat harga, yaitu 460 ribu selesai seminggu, 550 ribu selesai lima hari dan 660 ribu rampung dalam tiga hari.</p><p>Ternyata mengurus paspor memang sangat mudah jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kalau persyaratan komplit, hari pertama datang kita membeli dan mengisi formulir kemudian diserahkan ke loket penerimaan. Menunggu beberapa saat, kita dipanggil untuk wawancara. Pertanyaan dalam wawancara hanya klarifikasi tentang isian formulir sebelumnya dan tujuan pergi ke luar negeri. Selesai wawancara kita diberi selembar kertas guna membayar biaya paspor dan foto. Sesuai prosedur yang ada, pembayaran dan foto dilakukan 4 hari kerja setelah wawancara. Empat hari itu digunakan kantor imigrasi untuk entry data ke sistem dan memeriksa berkas yang ada dengan maksud menghindari duplikasi paspor.</p><p>Sewaktu saya akan membayar ternyata ada masalah. Dalam data komputer yang ada saya dinyatakan telah memiliki paspor, padahal ini adalah pengalaman pertama saya berurusan dengan kantor imigrasi. Saya diminta menghadap seorang pejabat untuk dimintai keterangan. Ketika bertemu pejabat tersebut, beliau langsung pasang tampang seram dan sepertinya menuduh saya bermaksud tidak baik dengan membuat paspor ganda. Setelah saya membaca print out yang ditunjukkan barulah saya mengerti. Data yang tertera di kertas memang kepunyaan saya termasuk nama. Saya mencoba menjelaskan bahwa semuanya memang data saya, namun ada satu data yang berbeda yaitu nomor KTP. Itu dapat terjadi karena saya mempunyai saudara kembar. Dia masih tidak percaya, meski saya sudah menunjukkan kartu keluarga yang ada. Setelah meminta salah satu stafnya mengambil berkas dengan nomor paspor tersebut barulah beliau mengetahui memang terjadi kesalahan dalam mengentry nama di komputer. Semua berkas menunjuk nama saudara kembar saya, namun di komputer dientry nama saya. Kebetulan staf imigrasi yang pada tahun 2003 mengentry data tersebut ada di ruangan yang sama dan dia baru menyadari kesalahannya hari itu juga. Sebuah pelajaran penting bagi seluruh jajaran kantor imigrasi dan kantor lainnya untuk lebih berhati-hati dalam melakukan entry data ke komputer.</p><p>Setelah urusan klarifikasi rampung, saya membayar biaya paspor serta menunggu untuk foto dan sidik jari. Paspor dapat diambil hari berikutnya. Ternyata memang cukup cepat. Dengan prosedur yang ada hanya memerlukan waktu 5 hari kerja untuk membuat paspor. Dan paspor ini berlaku selama 5 tahun. Ada 2 jenis paspor yang dikeluarkan kantor imigrasi. Pertama, paspor 24 halaman berlaku 3 tahun dengan biaya 110 ribu. Paspor ini khusus untuk para TKI yang akan bekerja di luar negeri. Kedua, paspor 48 halaman berlaku 5 tahun dengan biaya 265 ribu untuk yang bukan TKI, seperti yang saya buat ini.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/pengalaman-membuat-paspor.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>46</slash:comments> </item> <item><title>Why Yogyakarta?</title><link>http://hilmiarifin.com/why-yogyakarta.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/why-yogyakarta.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 29 Nov 2006 03:55:36 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Jogja]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[News]]></category> <category><![CDATA[Personal]]></category> <category><![CDATA[Traveling]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/blog/2006/11/29/why-yogyakarta/</guid> <description><![CDATA[Yogyakarta (also Jogjakarta in pre-1972 spelling or Jogja) is a city and province on the island of Java, Indonesia. It is the only province in Indonesia that is still formally governed by a precolonial Sultanate, the Sultanate of Ngayogyakarta Hadiningrat. The city is known as a center of classical Javanese fine art and culture such [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Yogyakarta (also Jogjakarta in pre-1972 spelling or Jogja) is a city and province on the island of Java, Indonesia. It is the only province in Indonesia that is still formally governed by a precolonial Sultanate, the Sultanate of Ngayogyakarta Hadiningrat. The city is known as a center of classical Javanese fine art and culture such as batik, ballet, drama, music, poetry and puppet shows. It is also famous as a center for Indonesian higher education. The official name of the Yogyakarta province is Special Region of Yogyakarta.</p><p><span
id="more-18"></span></p><p>Haunted by spiralling population, economic and political problems, the most populous island in South East Asia is a land of contrasts with an uncertain future.</p><p>Java is an island of striking natural beauty, rich in cultural history. But it&#8217;s getting harder to recognise it.</p><p>At Yogyakarta&#8217;s center is the kraton, or Sultan&#8217;s palace. Surrounding the kraton is a densely-populated residential neighborhood that occupies land that was formerly the Sultan&#8217;s sole domain; evidence of this former use remains in the form of old walls and the ruined Water Castle (Tamansari), built in 1758 as a pleasure garden. No longer used by the sultan, the garden had been largely abandoned, and was used for housing by palace employees and descendants. Reconstruction efforts began in 2004, and an effort to renew the neighborhood around the kraton has begun. The site is a developing tourist attraction.</p><p>The Ramayana ballet is worth attending even if you&#8217;re not a fan of traditional Asian stage performances. 20,000rp gets you a 90-minute show with a talented dance troupe and full gamelan orchestra. It&#8217;s a casual, well-organised atmosphere and you can meet the performers and even dance with them on the stage!</p><p>The Cirebon Restaurant, also on Jalan Malioboro attracts a steady stream of locals and foreigners with its (mainly) vegetarian specialties and convivial atmosphere &#8212; all at good prices.</p><p>Honestly, there are no other cities in Indonesia that have equally popular different names like this one. And, frankly speaking, none of the hundreds of names of areas in this country have been abbreviated in so many ways by its name like Yogyakarta.</p><p>On the streets, people &#8211; including government officials and university students &#8211; prefer to call this sultanate province Yogya or Jogja, despite its official name Yogyakarta.</p><p><em>by Daniel J.Fox</em></p><p>Mystical Yogyakarta&#8230; Come find out more at <a
target="_blank" href="http://yogyakarta.ewhy.info">yogyakarta.ewhy.info</a></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/why-yogyakarta.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 2/16 queries in 0.003 seconds using disk: basic
Object Caching 436/459 objects using disk: basic

Served from: hilmiarifin.com @ 2012-02-07 16:36:10 -->
