<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>hilmiarifin &#187; Today&#8217;s Lesson</title> <atom:link href="http://hilmiarifin.com/tag/todays-lesson/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://hilmiarifin.com</link> <description>sedekah pangkal kaya, berbagi pantang rugi</description> <lastBuildDate>Mon, 23 Apr 2012 23:04:58 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>Tolong Mandikan Aku, Bunda&#8230;</title><link>http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 23 Apr 2010 06:12:04 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Daily]]></category> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=750</guid> <description><![CDATA[<a
href="http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda.html"><img
align="left" hspace="5" width="150" src="http://farm3.static.flickr.com/2508/4101696559_a7d4e0d904.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="Zarah" title="Zarah" /></a>Zarah by Nafis Ahmad Nice story&#8230;Everything&#8217;s start from home&#8230;Artikel ini saya dapat dari sebuah milis, walaupun hanya copy paste tapi mudah-mudahan bermanfaat. Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><div
class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px;"><p><a
href="http://www.flickr.com/photos/kapurush/4101696559/"><img
class="alignnone" title="Zarah" src="http://farm3.static.flickr.com/2508/4101696559_a7d4e0d904.jpg" alt="Zarah" width="500" height="387" /></a></p><p
class="wp-caption-text"><a
href="http://www.flickr.com/photos/kapurush/4101696559/">Zarah</a> by <a
href="http://www.flickr.com/photos/kapurush/">Nafis Ahmad</a></p></div><p>Nice story&#8230;Everything&#8217;s start from home&#8230;Artikel ini saya dapat dari sebuah milis, walaupun hanya copy paste tapi mudah-mudahan bermanfaat.</p><blockquote><p>Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. &#8221;Why not to be the best?,&#8221; begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.</p><p>Ketika kampus mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.</p><p><span
id="more-750"></span></p><p>Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang &#8220;selevel&#8221;, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.</p><p>Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang  sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, &#8220;Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya?&#8221; Dengan sigap Dewi menjawab, &#8220;Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna&#8221;. &#8220;Everything is OK! Don’t worry. Everything is under control  kok!&#8221; begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.</p><p>Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.</p><p>Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. &#8220;Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda&#8221;. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.</p><p>Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya di rumah apabila ia merasa kesepian.</p><p>Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau &#8221;memahami&#8221; orangtuanya.</p><p>Dengan bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.</p><p>Bahkan, tutur Dewi pada saya, Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.</p><p>Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,&#8221;Bunda aku ingin mandi sama bunda&#8230;please&#8230;please bunda&#8221;, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.</p><p>Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.</p><p>Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. &#8220;Bunda, mandikan aku!&#8221; Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja&#8230;?&#8221; kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.</p><p>Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, &#8220;Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di ruang emergency&#8221;.</p><p>Dewi, ketika diberitahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang&#8230;terlambat sudah&#8230;Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.</p><p>Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata &#8220;Ini Bunda Nak&#8230;.hari ini Bunda mandikan Bayu ya&#8230;sayang&#8230;.! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..&#8221;</p><p>Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.</p><p>Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil.</p><p>Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, &#8220;Inikan sudah takdir, ya kan..!&#8221; Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di  panggil, ya dia pergi juga, iya kan?&#8221; Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.</p><p>Sementara di sebelah kanannya, suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat  pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.</p><p>Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, &#8220;Inilah konsekuensi sebuah pilihan!&#8221; lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.</p><p>Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa diduga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. &#8220;Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak&#8230;? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.</p><p>Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.</p><p>Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris &#8220;Bangunlah Bayu sayaaangku&#8230;.bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak&#8230;..?!?&#8221; pintanya berulang-ulang, &#8220;Bunda mau mandikan kamu sayang&#8230;.tolong beri kesempatan Bunda sekali saja Nak&#8230;.sekali ini saja, Bayu..anakku&#8230;?&#8221; Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras  membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.</p><p>Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat menusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini&#8230;tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar memandikan seorang anak.</p></blockquote><p>Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.</p><p>Semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua&#8230;saya hanya melanjutkan berita ini&#8230;moga-moga banyak yang baca dan makin peduli bahwa anak itu titipan Tuhan yang sangat berarti dan bermakna serta harus dijaga.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>4</slash:comments> </item> <item><title>Sebuah Kisah Tentang EMPATI</title><link>http://hilmiarifin.com/sebuah-kisah-tentang-empati.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/sebuah-kisah-tentang-empati.html#comments</comments> <pubDate>Thu, 21 Jan 2010 00:36:42 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Investment]]></category> <category><![CDATA[Islam]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=712</guid> <description><![CDATA[<a
href="http://hilmiarifin.com/sebuah-kisah-tentang-empati.html"><img
align="left" hspace="5" width="150" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/pictures_for_post/adc74fcb29575a0c3cb7e8da76ddc99a.jpeg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="Kisah Dermawan Abdullah bin Ja" title="" /></a>Di dalam kitab Ihya &#8216;Ulumuddin, Imam Ghazali pun menceritakan riwayat Abdullah bin Ja&#8217;far yang terkenal dermawan itu. Beliau adalah putera dari Ja&#8217;far bin Abu Thalib, pahlawan yang tewas dalam perang Mu&#8217;tah. Suatu kali dia berjalan-jalan pergi memeriksa kebun-kebunnya. Karena hari panas, berhentilah dia melepaskan lelah pada sebuah kebun kepunyaan orang lain. Di sana ada penjaganya [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img
class="alignleft" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/pictures_for_post/adc74fcb29575a0c3cb7e8da76ddc99a.jpeg" alt="Kisah Dermawan Abdullah bin Ja'far" width="252" height="193" /> Di dalam kitab Ihya &#8216;Ulumuddin, Imam Ghazali pun menceritakan riwayat Abdullah bin Ja&#8217;far yang terkenal dermawan itu. Beliau adalah putera dari Ja&#8217;far bin Abu Thalib, pahlawan yang tewas dalam perang Mu&#8217;tah. Suatu kali dia berjalan-jalan pergi memeriksa kebun-kebunnya. Karena hari panas, berhentilah dia melepaskan lelah pada sebuah kebun kepunyaan orang lain. Di sana ada penjaganya seorang budak hitam.</p><p>Sedang hari panas terik itu, tiba-tiba masuklah seekor anjing ke pekarangan kebun itu, sedang lidahnya sudah hampir terjela, karena haus dan laparnya. Digoyang-goyangkan ekornya menghadap kepada budak hitam itu minta dikasihani. Di tangan budak hitam itu ada tiga buah roti. Lalu dilemparkannya sebuah. Anjing itu memakannya sampai habis. Setelah habis dia menengadah lagi, meminta lagi. Dilemparkannya pula sepotong lagi, dan dimakan habis lagi oleh anjing itu. Dan dia menengadah lagi, meminta lagi. Lalu dilemparkannya pula, roti satu-satunya yang masih tinggal dalam tangannya dan tidak ada lagi yang lain. Anjing itu pun sudah kenyang, lalu meninggalkan tempat itu. Sedang budak hitam tadi, tidak lagi mempunyai persediaan roti, telapak tangannya telah disapukannya ke celananya.</p><p><span
id="more-712"></span></p><p>Abdullah bin Ja&#8217;far lalu memanggil budak itu dan bertanya,&#8221;Hai Anak! Berapa engkau mendapat pembagian makanan dari tuanmu satu hari ?&#8221;</p><p>Anak itu menjawab,&#8221;Sebanyak yang bapak lihat itulah.&#8221; (tiga potong roti).</p><p>Beliau bertanya pula,&#8221;Mengapa lebih kau pentingkan makanan buat anjing itu daripada dirimu sendiri?&#8221;</p><p>Dia menjawab,&#8221;Hamba lihat anjing itu bukanlah anjing sekeliling tempat ini. Tentu dia datang dari tempat jauh, mengembara karena kelaparan. Maka tidaklah hamba sampai hati melihatnya pergi dengan lapar dan tidak berdaya lagi.&#8221;</p><p>Beliau bertanya,&#8221;Apa yang engkau makan hari ini?&#8221;</p><p>Budak itu menjawab,&#8221;Biar hamba pererat ikat pinggang hamba.&#8221;</p><p>Mendengar jawaban yang demikian, termenunglah Abdullah bin Ja&#8217;far dan berkatalah ia kepada dirinya sendiri,&#8221;Sampai dimana aku dikenal sebagai seorang pemurah dan dermawan, padahal budak ini lebih daripadaku. Bersedia dia memberikan makanan yang akan dimakannya satu hari, hanya karena tidak tahan melihat seorang anjing yang nyaris mati kelaparan.&#8221;</p><p>Lalu dimintanya kepada anak itu supaya ditunjukkan rumah orang yang punya kebun yang dipeliharanya itu. Setelah bertemu orang itu, ditawarnyalah kebun itu. Setelah cocok harganya, langsung dibayarnya. Lalu ditawarnya pula budak penjaga kebun itu dan setelah cocok harga dibayarnya dan dibelinya pula segala alat perkebunan itu. Setelah selesai semua, kembalilah dia ke tempat budak itu, lalu katanya,&#8221;Kebun ini telah kubeli dari tuanmu yang lama dan engkaupun telah kubeli pula. Mulai saat ini engkau aku merdekakan dari perbudakan dan kebun ini aku hadiahkan kepadamu. Hiduplah engkau dengan bahagia di dalam memelihara kebunmu ini.&#8221;</p><p>Tercengang dan terharu budak itu memandang kedermawanan yang demikian tinggi, padahal bagi Abdullah bin Ja&#8217;far masih dirasakan, bahwa kedermawanan budak itu masih lebih tinggi dari pada kedermawanan dirinya sendiri.</p><p><a
href="http://www.facebook.com/group.php?gid=155644615454"><em><small>Sumber</small></em></a></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/sebuah-kisah-tentang-empati.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Abu Ubaidah bin Jarrah, Gubernur Syam yang Zuhud</title><link>http://hilmiarifin.com/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-yang-zuhud.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-yang-zuhud.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 21 Oct 2009 09:32:08 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Islam]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category> <category><![CDATA[zuhud]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=644</guid> <description><![CDATA[<a
href="http://hilmiarifin.com/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-yang-zuhud.html"><img
align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/zuhud-150x200.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="Pemimpin Amanah, Zuhudnya Pemimpin, Teladan Pimpinan" title="Kisah Pemimpin yang Zuhud" /></a>Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya. Bahkan Abdullah bin Mas’ud bangga dengannya. “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw, cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah,” begitu ujarnya. Rasulullah [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p><a
href="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/zuhud.jpg"><img
class="alignleft size-full wp-image-645" title="Kisah Pemimpin yang Zuhud" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/zuhud.jpg" alt="Pemimpin Amanah, Zuhudnya Pemimpin, Teladan Pimpinan" width="240" height="320" /></a>Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.</p><p>Bahkan Abdullah bin Mas’ud bangga dengannya. “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw, cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah,” begitu ujarnya.</p><p>Rasulullah saw. sendiri mengakui kualitas Abu Ubaidah. “Bagi suatu kaum adalah seseorang yang paling mereka percayai dan bagi kaum ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah,” begitu sabda Rasulullah saw.</p><p><span
id="more-644"></span></p><p>Di masa pemerintahan Abu Bakar sebagai Khalifah, Abu Ubaidah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Abu Ubaidah hingga di masa pemerintahan Umar bin Khattab.</p><p>Tak lama kemudian Umar mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.</p><p>Suatu ketika, ketika di masa pemerintahan Abu Ubaidah, Syam dikepung musuh. Umar berkirim surat kepada Abu Ubaidah. Isinya, “Sesunggunya tidak akan pernah ada seorang mukmin yang dibiarkan Allah dalam suatu penderitaan melainkan Dia akan melapangkan jalannya, hingga kesulitan akan dibalas-Nya dengan kemudahan.”</p><p>Surat itu dibalas oleh Abu Ubaidah dengan kalimat, <strong>“Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman: Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau, bermewah-mewah, dan saling membanggakan kekayaan dan anak pinak di antaramu, ibarat hujan (menyirami bumi), tumbuh-tumbuhan (menjadi subur menghijau), mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat (bagi mereka yang menyenangi kemewahan dunia) namun ada pula ampunan dan keridhaan Allah (bagi yang mau bertobat). Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu belaka.”</strong> (Al-Haddid: 20)</p><p>Surat balasan Abu Ubaidah ini oleh Umar dibacakan di depan kaum muslimin seusai melaksanakan shalat berjamah. “Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah mengharapkan aku dan kalian semua suka berjihad,” kata Umar.</p><p>Memang Abu Ubaidah dikenal orang di zamannya sebagai orang yang <a
href="http://hilmiarifin.com/tiga-cara-mencapai-derajat-zuhud/">zuhud</a>. Umar pernah berkunjung ke Syam ketika Abu Ubaidah menjabat sebagai gubernur. “Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”</p><p>Namun Umar memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.</p><p>Umar bertanya, “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?”</p><p>“Adakah kau memiliki makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya.</p><p>Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.” Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.”</p><p>Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu.” Umar berujar, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.”</p><p>Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih <a
href="http://www.dakwatuna.com/2007/zuhud/">zuhud</a> dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. <strong>Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga</strong>.</p><p><a
href="http://www.dakwatuna.com/2008/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-zuhud/"><em>Sumber</em></a></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/abu-ubaidah-bin-jarrah-gubernur-syam-yang-zuhud.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>3</slash:comments> </item> <item><title>Sebutir Kurma Penjegal Doa</title><link>http://hilmiarifin.com/sebutir-kurma-penjegal-doa.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/sebutir-kurma-penjegal-doa.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 26 Aug 2009 04:59:04 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[doa]]></category> <category><![CDATA[Islam]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[sholat]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category> <category><![CDATA[zuhud]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=631</guid> <description><![CDATA[<a
href="http://hilmiarifin.com/sebutir-kurma-penjegal-doa.html"><img
align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/Doa-150x200.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="Doa Makbul, Rahasia Doa, Sholat, Hakikat Doa" title="Sebutir Kurma Penjegal Doa" /></a>Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke Mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat Mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p><a
href="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/Doa.jpg"><img
class="alignleft size-full wp-image-632" title="Sebutir Kurma Penjegal Doa" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/Doa.jpg" alt="Doa Makbul, Rahasia Doa, Sholat, Hakikat Doa" width="203" height="270" /></a>Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke Mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat Mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.</p><p>Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah. Ia shalat dan berdoa  khusuk sekali. Tiba-tiba ia mendengar percakapan dua malaikat tentang dirinya.</p><p><span
id="more-631"></span></p><p>&#8220;Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,&#8221; kata malaikat yang satu. &#8220;Tetapi sekarang tidak lagi, doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Mesjidil Haram,&#8221; jawab malaikat yang satu lagi.</p><p>Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. &#8220;Astaghfirullahal adzhim&#8221; Ibrahim beristighfar.</p><p>Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.</p><p>&#8220;4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua, kemana ia sekarang?&#8221; tanya Ibrahim. &#8220;Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma&#8221; jawab anak muda itu.</p><p>&#8220;Innalillahi wa innailaihi roji&#8217;un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?&#8221; Lantas Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.</p><p>&#8220;Nah, begitulah&#8221; kata Ibrahim setelah bercerita, &#8220;Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?&#8221;</p><p>&#8220;Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.&#8221;</p><p>&#8220;Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu-persatu.&#8221;</p><p>Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.</p><p>4 bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada  dibawah kubah. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap-cakap. &#8220;Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain&#8221;.</p><p>&#8220;O, tidak..sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.&#8221;</p><p>Sepertinya kita sudah harus memulai tekat yang bulat untuk menerapkan yang hak dan yang bathil dalam hidup kita dan kita juga harus berhati-hati dalam memasukan makanan ke dalam tubuh kita&#8230;apakah sudah halalkah? Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu&#8230;</p><p>Wallahu’alam.</p><p><em>*image <a
href="http://flickr.com/photos/40969344@N00" target="_blank">credit</a></em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/sebutir-kurma-penjegal-doa.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Kesempatan</title><link>http://hilmiarifin.com/kesempatan.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/kesempatan.html#comments</comments> <pubDate>Thu, 20 Aug 2009 01:26:25 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category> <category><![CDATA[Online Business]]></category> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=471</guid> <description><![CDATA[<a
href="http://hilmiarifin.com/kesempatan.html"><img
align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/kesempatan03-150x200.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="kesempatan03" title="Kesempatan" /></a>Dalam sebuah perjalanan dinas, seorang manajer dan stafnya yang masih muda menumpang kereta api jurusan Bandung-Jakarta. Tempat duduk yang tersisa hanyalah di depan wanita muda yang cantik dan neneknya. Sang manajer dan stafnya duduk berhadapan dengan kedua wanita tersebut (bangku kereta mirip kelas ekonomi sekarang). Sementara kereta api berjalan, keempat orang ini mencoba menyesuaikan diri [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p><a
href="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/kesempatan03.jpg"><img
class="alignleft size-full wp-image-472" title="Kesempatan" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/kesempatan03.jpg" alt="kesempatan03" width="235" height="299" /></a>Dalam sebuah perjalanan dinas, seorang manajer dan stafnya yang masih muda menumpang kereta api jurusan Bandung-Jakarta. Tempat duduk yang tersisa hanyalah di depan wanita muda yang cantik dan neneknya. Sang manajer dan stafnya duduk berhadapan dengan kedua wanita tersebut (bangku kereta mirip kelas ekonomi sekarang). Sementara kereta api berjalan, keempat orang ini mencoba menyesuaikan diri dengan membuka percakapan.</p><p>Percakapan mulai terbuka, hingga tanpa terasa kereta yang mereka tumpangi mulai memasuki terowongan Sasaksaat. Entah mengapa, lampu dalam gerbong kereta tiba-tiba tidak menyala. Tak ayal lagi, seluruh gerbong pun menjadi gelap gulita.</p><p><span
id="more-471"></span></p><p>Untuk beberapa lama, keempat orang ini dan tentunya penumpang yang lain diliputi kegelapan total. Mereka hanya ditemani oleh deru lokomotif serta bunyi roda kereta api. Dalam kesunyian sesaat itu, disamping mendengar deru kereta api, keempat orang yang duduk berdekatan itu mendengar suara lain yang cukup keras, yakni sebuah ciuman dan sebuah tamparan.</p><p>Setelah melewati terowongan yang gelap tersebut, keempat orang itu mulai menerjemahkan bunyi ciuman dan tamparan tadi dengan persepsi masing-masing.</p><p>Si wanita muda berpikir,”Saya merasa tersanjung, manajer yang berdasi di depan saya ini telah mencium saya, namun saya sangat malu karena nenek menamparnya.”</p><p>Sedangkan neneknya berpikir,”Saya kesal karena orang muda itu mencium cucu saya, tetapi saya bangga karena cucu saya punya keberanian untuk membalasnya.”</p><p>Di pihak lain, sang manajer duduk diam sambil berpikir,”Staf saya telah memperlihatkan keberanian yang besar untuk mencium gadis yang belum dikenalnya, tetapi kenapa gadis itu keliru menampar saya?”</p><p>Tampaknya, hanya staf itu satu-satunya orang yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi, sebab dalam waktu yang singkat dia mempunyai kesempatan untuk mencium seorang gadis cantik sekaligus menampar manajernya.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/kesempatan.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Pohon Apel</title><link>http://hilmiarifin.com/pohon-apel.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/pohon-apel.html#comments</comments> <pubDate>Thu, 11 Dec 2008 13:44:13 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=348</guid> <description><![CDATA[Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.</p><p><span
id="more-348"></span></p><p>Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. &#8220;Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,&#8221; pinta pohon apel itu. &#8220;Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya&#8221;.</p><p>Pohon apel itu menyahut, &#8220;Duh, maaf aku pun tak punya uang&#8230; tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu&#8221;. Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.</p><p>Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. &#8220;Ayo bermain-main denganku lagi,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Aku tak punya waktu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?&#8221;</p><p>&#8220;Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,&#8221; kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.</p><p>Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. &#8220;Ayo bermain-main lagi denganku,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Aku sedih,&#8221; kata anak lelaki itu. &#8220;Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?&#8221;</p><p>&#8220;Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah&#8221;.</p><p>Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.</p><p>Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. &#8220;Maaf anakku,&#8221; kata pohon apel itu. &#8220;Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.&#8221;</p><p>&#8220;Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,&#8221; jawab anak lelaki itu.</p><p>&#8220;Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,&#8221; kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.</p><p>&#8220;Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,&#8221; kata anak lelaki. &#8220;Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.&#8221;</p><p>&#8220;Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.&#8221; Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.</p><p>Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.</p><p>&#8212;&#8212;</p><blockquote><p>Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.</p></blockquote><p>Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.</p><p><strong>Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita</strong>. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.</p><p><em>Sumber: unknown</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/pohon-apel.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Frank Edward Piccolo Foundation</title><link>http://hilmiarifin.com/frank-edward-piccolo-foundation.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/frank-edward-piccolo-foundation.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 08 Nov 2008 02:38:11 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=316</guid> <description><![CDATA[Many philanthropists, nowadays, pay much more attention to the lives of others especially youth since the youth is believed to be the platform of next generation. They provide the youth with excellent education opportunities in colleges or universities. Moreover, they also use their wealth to help the medication of those who are poor. Jim Piccolo, [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Many philanthropists, nowadays, pay much more attention to the lives of others especially youth since the youth is believed to be the platform of next generation. They provide the youth with excellent education opportunities in colleges or universities. Moreover, they also use their wealth to help the medication of those who are poor.</p><p><span
id="more-316"></span></p><p><a
title="Jim Piccolo" href="http://www.frankedwardpiccolo.org/reaching_out.html" target="_blank">Jim Piccolo</a>, founder of Nouveau University and Nouveau Riche Real Estate Investment College, through The Frank Edward Piccolo Foundation together with other philanthropists has set their great purposes to help others. Therefore, <a
title="Jim Piccolo" href="http://www.marketwatch.com/news/story/former-university-phoenix-president-lead/story.aspx?guid={959582ED-08BF-4CC8-A8CC-296FA85CC24A}&amp;dist=hppr" target="_blank">Jim Piccolo</a> and teams have made some charity programs that are intended for the poor and youth. You can go to <a
href="http://frankedwardpiccolo.org/reaching_out.html" target="_blank">frankedwardpiccolo.org/reaching_out.html</a> for more information about the kinds of programs they made. <a
title="Jim Piccolo" href="http://www.marketwatch.com/news/story/Nouveau-University-Acquires-Institute-Construction/story.aspx?guid=%7B2A29D94D-3C7B-4432-A2BD-4A475AFC3586%7D" target="_blank">Jim Piccolo</a> and his students at Nouveau Riche also help the youth from Help4Teenz by sharing their stories of hope. He also helps Muhammad Ali&#8217;s Parkinson Centre by giving some donation.</p><p>The most important thing that Jim Piccolo and teams want to share through The Frank Edward Piccolo Foundation is that hope makes everything possible. This message is spread widely to youth. If you are interested in joining such charity programs, you can directly contact the foundation. You can be a part of the team that wants to share their wealth with others.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/frank-edward-piccolo-foundation.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>3</slash:comments> </item> <item><title>Lenyapnya Rejeki Tak Terduga</title><link>http://hilmiarifin.com/lenyapnya-rejeki-tak-terduga.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/lenyapnya-rejeki-tak-terduga.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 07 Nov 2008 23:03:56 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Online Earning]]></category> <category><![CDATA[Blogging]]></category> <category><![CDATA[penghasilan dari internet]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category> <category><![CDATA[Website]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=309</guid> <description><![CDATA[Sungguh merupakan rejeki yang tidak terduga bagi saya ketika blog ini mendapat PR4. Namun semuanya itu lenyap sudah. Tidak bisa disangkal lagi penyebabnya adalah program paid review dan text link yang saya ikuti. Dari awal ngeblog, saya tidak pernah ambil pusing tentang PR. Selain saya tidak tahu, ketidakpedulian ini lebih karena saya mengikuti saran dari [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sungguh merupakan rejeki yang tidak terduga bagi saya ketika blog ini mendapat PR4. Namun semuanya itu lenyap sudah. Tidak bisa disangkal lagi penyebabnya adalah program paid review dan text link yang saya ikuti.</p><p><span
id="more-309"></span></p><p>Dari awal ngeblog, saya tidak pernah ambil pusing tentang PR. Selain saya tidak tahu, ketidakpedulian ini lebih karena saya mengikuti saran dari salah satu blog seleb yang saya kunjungi (saya lupa kepunyaan siapa) yang intinya <strong>ketika ada kesempatan ngeblog, menulislah apa yang ingin ditulis, jangan pernah dipusingkan dengan urusan PR</strong>.</p><p>Itulah yang bisa saya lakukan sampai saat ini, ngeblog tanpa memikirkan PR. Ketika blog ini dapat PR tinggi, saya hanya bisa bersyukur. Kalau akhirnya PR itu turun lagi seperti sekarang, saya pun hanya sedikit galau.</p><p>Apakah turunnya PR akan diikuti <a
title="Penghasilan dari Internet" href="http://hilmiarifin.com/make-money-online/" target="_self">penghasilan online</a> saya yang <a
title="Online Earning Tembus 3 Digit" href="http://hilmiarifin.com/online-earning-tembus-3-digit/" target="_self">menembus tiga digit</a> dolar paman sam di bulan kemarin?</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/lenyapnya-rejeki-tak-terduga.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>4</slash:comments> </item> <item><title>Tuhan Turun ke Langit Dunia</title><link>http://hilmiarifin.com/tuhan-turun-ke-langit-dunia.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/tuhan-turun-ke-langit-dunia.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:29:49 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[doa]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[mengajar]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=235</guid> <description><![CDATA[Seorang laki-laki setengah baya berteriak-teriak berkeliling desa. &#8220;Tuhan turun ke langit duniaaa&#8230;!!! Tuhan turun ke langit duniaaaa&#8230;!!!. Warga desapun keluar dari rumahnya masing-masing dan menghampiri laki-laki yang berteriak itu. &#8220;Ada apa pak?&#8221;, tanya salah seorang warga. &#8220;Kita harus berkumpul di lapangan desa, karena Tuhan sedang turun ke langit dunia, untuk mengabulkan langsung permintaan setiap orang [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Seorang laki-laki setengah baya berteriak-teriak berkeliling desa. &#8220;Tuhan turun ke langit duniaaa&#8230;!!! Tuhan turun ke langit duniaaaa&#8230;!!!. Warga desapun keluar dari rumahnya masing-masing dan menghampiri laki-laki yang berteriak itu. &#8220;Ada apa pak?&#8221;, tanya salah seorang warga. &#8220;Kita harus berkumpul di lapangan desa, karena Tuhan sedang turun ke langit dunia, untuk mengabulkan langsung permintaan setiap orang yang meminta&#8221;, ujar laki-laki tengah baya tersebut dengan menyeka dahinya yang penuh dengan peluh.</p><p><span
id="more-235"></span></p><p>Tak ayal lagi semua warga desa berlari menuju lapangan desa untuk memanfaatkan kesempatan yang belum pernah terjadi ini. Satu per satu setiap orang menengadahkan tangannya untuk meminta kepada Tuhan.</p><p>Pak Hartawan orang paling kaya di desa menyeru dengan lantang, &#8220;Tuhan, berikan saya harta yang lebih banyak karena dengan harta yang sangat banyak saya bisa beramal untuk semua orang yang membutuhkan!&#8221; Tuhan mengabulkannya.</p><p>Pak Sholeh seorang pemimpin agama di desa memohon dengan takzim, &#8220;Tuhan, berikan saya ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya supaya saya bisa mengajarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia!&#8221; Tuhan mengabulkannya.</p><p>Pak Hadi seorang tabib menengadahkan tangannya, &#8220;Tuhan, berikan hamba kesaktian yang tiada tara supaya hamba bisa menyembuhkan semua penyakit yang diderita oleh semua umat manusia!&#8221; Tuhan mengabulkannya.</p><p>Pak Agung yang kepala desa dengan muka antusias dan penuh semangat berteriak, &#8220;Tuhan, berikan saya kedahsyatan untuk memimpin agar saya bisa membawa perubahan menakjubkan untuk menciptakan kesejahteraan untuk warga saya!&#8221; Tuhan mengabulkannya.</p><p>Satu per satu warga desa mengucapkan permintaannya dan Tuhanpun tanpa kenal lelah mengabulkan semua permintaan.</p><p>Hari beranjak sore. Pada saat Tuhan berpamitan dengan seluruh warga desa, tiba-tiba dari kejauhan seorang nenek-nenek tua berjalan tertatih-tatih dengan membawa sebuah baki berisi air putih. Dengan kelembutannya Tuhan bertanya kepada nenek tua yang baru saja datang, &#8220;Wahai hambaku, adakah permintaan yang ingin kau sampaikan kepadaKU?</p><p>Nenek tua ini menatap Tuhan dengan ketakjuban, &#8220;Tuhanku, di kesempatan yang sangat mulia ini aku ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku tidak ingin meminta kepadaMU karena hampir setiap denyut jantungku, aku selalu meminta kepadaMU. Hampir setiap doaku selalu Engkau kabulkan dengan caraMU. Perkenankan wahai Tuhanku kali ini aku memberikan kepadaMU segelas air putih sebagai wujud perhatianku kepadaMU. Meskipun Engkau Maha Kaya perkenankan Tuhan menerima pemberianku&#8221;.</p><p>Tuhan menatap wanita ini dengan penuh kelembutan, dari sorot matanya memancarkan kebanggaan yang luar biasa. Dalam hatiNYA berbisik &#8220;Inilah penghuni surgaKU&#8221;.</p><p>Selamat menjalani hari dengan penuh rahmat.</p><p>Regards,<br
/> Cahyana Puthut Wijanarka</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/tuhan-turun-ke-langit-dunia.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Setiap Hari Dalam Hidupmu adalah Istimewa</title><link>http://hilmiarifin.com/setiap-hari-dalam-hidupmu-adalah-istimewa.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/setiap-hari-dalam-hidupmu-adalah-istimewa.html#comments</comments> <pubDate>Sat, 20 Sep 2008 02:19:57 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=233</guid> <description><![CDATA[Dari salah satu milis yang saya ikuti, saya memperoleh banyak sekali pencerahan dari mereka yang mau berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. So, tidak ada salahnya saya pun berbagi dengan para pembaca blog ini. Jangan pernah ragu untuk bergabung dengan banyak milis untuk terus berbagi dan belajar. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: &#8220;Sesungguhnya [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Dari salah satu milis yang saya ikuti, saya memperoleh banyak sekali pencerahan dari mereka yang mau berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. So, tidak ada salahnya saya pun berbagi dengan para pembaca blog <a
href="http://hilmiarifin.com/">ini</a>. Jangan pernah ragu untuk bergabung dengan banyak milis untuk terus berbagi dan belajar.</p><p><span
id="more-233"></span></p><blockquote><p>Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: &#8220;Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi&#8230; (QS. Al Kahfi: 23)</p></blockquote><p>Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan pakaian dalam dan membuka bungkusan berbahan sutra &#8220;Ini, &#8230;&#8221;, dia berkata, &#8220;Bukan bungkusan yang asing lagi&#8221;. Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian dalam sutra serta kotaknya. &#8220;Istriku mendapatkan ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini. Dia bilang, hanya akan digunakan untuk kesempatan yang istimewa.</p><p>Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan hadiah didekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal. Dia menoleh padaku dan berkata: <strong>&#8220;JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH KESEMPATAN YANG ISTIMEWA!&#8221;</strong></p><p>Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak menyimpan parfum spesialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemanapun aku menginginkannya.</p><p>Kata-kata &#8220;Suatu hari&#8230;&#8221; dan Satu saat nanti&#8230;&#8221; sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang.</p><p>Aku akan menyesalinya, karena aku tidak akan lebih lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui, juga surat-surat yang ingin aku tulis Suatu hari nanti. Aku akan menyesal dan merasa sedih kalau aku tidak sempat mengatakan betapa aku mencintai orangtuaku, saudara-saudaraku dan teman-temanku.</p><p>Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Dan, setiap pagi, aku berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.</p><p><strong>&#8230;ingatlah bahwa &#8220;Suatu saat&#8221; itu sangat jauh&#8230; Dan mungkin tidak akan pernah datang &#8230;</strong></p><blockquote><p>&#8230; dan bersegera pada (mengerjakan) kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh (QS. Ali Imran: 114)</p></blockquote> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/setiap-hari-dalam-hidupmu-adalah-istimewa.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>&#8220;nDeso&#8221;</title><link>http://hilmiarifin.com/ndeso.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/ndeso.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 16 Sep 2008 23:09:29 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Government]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=231</guid> <description><![CDATA[Satu lagi arsip e-mail yang sangat menarik Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Satu lagi arsip e-mail yang sangat menarik <img
src='http://hilmiarifin.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p><p>Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, <em>shock culture</em>, <em>countrified</em> dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.</p><p><span
id="more-231"></span></p><p>Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.</p><p>Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan rektor pun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas kedutaan yaitu mercy.</p><p>Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.</p><p>Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang lagi mengikuti program Post Doc, dia anak seorang pengusaha yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.</p><p>Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek. Wah ini yang deso siapa yaa?</p><p>Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.</p><blockquote><p>Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst.</p></blockquote><p><strong>Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di Malaysia &#8220;Wanita Tak Senonoh&#8221;) , angka kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global</strong>. Maka orang nDeso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100 juta, wiiieh!</p><p>Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :</p><ul><li> Orang bisa antri raskin sambil pegang HP</li><li> Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok</li><li> Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan kulkas</li><li> Orang bule mabuk karena kelebihan uang, orang kampung mabuk beli minuman patungan</li><li> Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala</li><li> Para pengungsi bisa berjoget dalam tendanya</li><li> Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah</li><li> Ijazah S3 luar negeri bisa di beli di sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur</li><li> Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald</li><li> Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan</li><li> Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP</li><li> 63 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja</li><li> Agar rakyat tidak kelaparan, maka para pejabatnya dansa dansi di acara tembang kenangan</li><li> Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor</li><li> Agar masyarakat cerdas, maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar</li><li> Agar bisa disebut terbuka, maka harus bisa buka-bukaan</li><li> Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang juga digandeng</li></ul><blockquote><p><strong>Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.</strong></p></blockquote><p><em>oleh: Ika S. Creech<br
/> Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja sebagai pembawa acara di salah satu stasiun di Perancis.</em></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/ndeso.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>3</slash:comments> </item> <item><title>Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat</title><link>http://hilmiarifin.com/mampukah-kita-mencintai-tanpa-syarat.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/mampukah-kita-mencintai-tanpa-syarat.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 12 Sep 2008 22:52:51 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=229</guid> <description><![CDATA[Salah satu kelebihan menggunakan software pembaca e-mail (saya menggunakan outlook) untuk membaca email adalah kita bisa menyimpan e-mail dalam hard disk komputer kita dan membacanya secara offline, sehingga sewaktu-waktu kita bisa membacanya kembali. Ketika membaca kembali arsip-arsip email yang saya simpan, ketemu dengan artikel di bawah ini yang sangat bagus untuk menjadi bahan renungan. Dilihat [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Salah satu kelebihan menggunakan software pembaca e-mail (saya menggunakan outlook) untuk membaca email adalah kita bisa menyimpan e-mail dalam hard disk komputer kita dan membacanya secara offline, sehingga sewaktu-waktu kita bisa membacanya kembali. Ketika membaca kembali arsip-arsip email yang saya simpan, ketemu dengan artikel di bawah ini yang sangat bagus untuk menjadi bahan renungan.</p><p><span
id="more-229"></span></p><p>Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja  bahkan sudah mendekati malam, pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi  dengan merawat istrinya yang sakit dan  juga sudah tua Mereka menikah  sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal  cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba  kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun,  dan menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa  tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap  hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan  mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia  letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.</p><p>Walau istrinya tidak dapat bicara, tapi dia selalu melihat istrinya  tersenyum. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari  rumahnya, sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan  siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan  selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan  apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa  memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang  bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.</p><p>Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25 tahun dengan sabar.  Dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati  mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang  masih kuliah. Pada suatu hari keempat anak Suyatno berkumpul di rumah  orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka  menikah dan sudah tinggal dengan keluarga masing-masing, pak Suyatno  memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu  semua anaknya berhasil.</p><p>Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata, &#8220;Pak,  kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak  merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir  bapak&#8230;bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu&#8221;. Dengan air mata  berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya &#8220;sudah yang keempat kalinya  kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan  mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban  seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan  merawat ibu sebaik-baik secara bergantian&#8221;.</p><p>Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak  mereka, &#8220;Anak-anakku, jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya  untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah&#8230; tapi ketahuilah, dengan  adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah  melahirkan kalian&#8230; sejenak kerongkongannya tersekat&#8230; kalian yang  selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak  satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah  dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan  keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih  sakit.&#8221;</p><p>Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno&#8230; dengan pilu  ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya  pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi  narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa  mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa  apa-apa. Disaat itulah meledak tangis beliau, dan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.</p><p>Disitulah pak Suyatno bercerita. &#8220;<strong>Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi  (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan</strong>. Saya  memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat  diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan  batinnya, bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang  lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita  bersama&#8230; dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit&#8230;&#8221;</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/mampukah-kita-mencintai-tanpa-syarat.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Sekilas tentang Kedermawanan</title><link>http://hilmiarifin.com/sekilas-tentang-kedermawanan.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/sekilas-tentang-kedermawanan.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 09 Sep 2008 23:48:52 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Reflection]]></category> <category><![CDATA[Learning]]></category> <category><![CDATA[Life]]></category> <category><![CDATA[Money]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=227</guid> <description><![CDATA[Jika seorang anak bisa membantu, mengapa &#8220;kita yang lebih baik&#8221; tidak? Ia berjalan di depan meja &#8216;donation&#8217;, kami berpikir:&#8217;dia akan lewat&#8230;&#8217; &#8220;Saya ingin menyumbang!&#8221; Ia menuang koin dari mangkuknya. Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu, tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri. Kami semua tak bisa berkata-kata, ia memberikan semua yang diperolehnya kepada Lembaga Amal [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Jika seorang anak bisa membantu, mengapa &#8220;kita yang lebih baik&#8221; tidak? Ia berjalan di depan meja &#8216;donation&#8217;, kami berpikir:&#8217;dia akan lewat&#8230;&#8217; &#8220;Saya ingin menyumbang!&#8221; Ia menuang koin dari mangkuknya. Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu, tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.</p><p><span
id="more-227"></span></p><p>Kami semua tak bisa berkata-kata, ia memberikan semua yang diperolehnya kepada Lembaga Amal dengan usahanya sendiri. &#8220;Saya masih punya uang.&#8221; Ia berkata dengan antusias sambil merogoh saku celananya. Ia mengambil beberapa lembar uang 10 dollar dan&#8230; menyumbang!</p><blockquote><p>Orang bijak mengatakan, &#8220;Sesungguhnya jika kita berbuat kebaikan, kita BUKAN hanya sedang membantu orang atau mahkluk lain; namun sesungguhnya kita sedang membantu diri kita sendiri agar menjadi lebih bahagia&#8221;</p></blockquote><p><strong>Temukan kebahagiaan dengan memberi.</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/sekilas-tentang-kedermawanan.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Bux.to Payout</title><link>http://hilmiarifin.com/buxto-payout.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/buxto-payout.html#comments</comments> <pubDate>Mon, 18 Aug 2008 13:07:29 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Online Earning]]></category> <category><![CDATA[bux.to]]></category> <category><![CDATA[Online Business]]></category> <category><![CDATA[Tips and Tricks]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=183</guid> <description><![CDATA[<a
href="http://hilmiarifin.com/buxto-payout.html"><img
align="left" hspace="5" width="150" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/alertpaybuxtocomplete.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="Bux.to Payout" title="Bux.to Payout" /></a>Tujuhbelasan tahun ini menjadi sangat spesial bagi saya. Ketika mengecek email ternyata ada 2 email menggembirakan dari bux.to dan AlertPay. Setelah menunggu selama 6 bulan, cashout saya sebesar $220 akhirnya dibayarkan. Senang akhirnya bux.to terbukti membayar, tapi masih bingung bagaimana mencairkan dana di AlertPay, padahal lagi butuh banyak uang untuk membeli buku kuliah yang ternyata [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Tujuhbelasan tahun ini menjadi sangat spesial bagi saya. Ketika mengecek email ternyata ada 2 email menggembirakan dari bux.to dan AlertPay. Setelah <a
href="http://hilmiarifin.com/menunggu/">menunggu</a> selama 6 bulan, <a
href="http://hilmiarifin.com/buxto-cashout/">cashout</a> saya sebesar $220 akhirnya dibayarkan.</p><p><span
id="more-183"></span></p><p>Senang akhirnya bux.to terbukti membayar, tapi masih bingung bagaimana mencairkan dana di AlertPay, padahal lagi butuh banyak uang untuk membeli buku kuliah yang ternyata sangat tidak murah. <span
style="text-decoration: line-through;">Kalau ada yang lagi butuh dana AlertPay, silakan kontak saya segera.</span></p><p><a
href="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/alertpaybuxtocomplete.jpg"><img
class="alignnone size-full wp-image-187" title="Bux.to Payout" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/alertpaybuxtocomplete.jpg" alt="Bux.to Payout" width="336" height="254" /></a></p><p><a
href="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/alertpaybuxto.jpg"><img
class="size-medium wp-image-184" title="Bux.toPayout" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/alertpaybuxto.jpg" alt="Bux.to Payout via AlertPay" width="300" height="25" /></a></p><p>Masih ragu dan belum ikutan bux.to juga? Segera saja <a
href="http://bux.to/?r=hrifin">mendaftar</a> dan jangan ketinggalan berburu <a
href="http://hilmiarifin.com/make-money-online/">online earning</a>.</p><p><strong><span
style="text-decoration: underline;">Update</span></strong>:<br
/> Dana di AlertPay sudah saya withdraw dengan fasilitas baru dari AlertPay. Bagaimana hasilnya tunggu postingan saya berikutnya <img
src='http://hilmiarifin.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/buxto-payout.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>10</slash:comments> </item> <item><title>Serba Serbi Investasi</title><link>http://hilmiarifin.com/serba-serbi-investasi.html</link> <comments>http://hilmiarifin.com/serba-serbi-investasi.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 16 Jul 2008 19:25:58 +0000</pubDate> <dc:creator>rifin</dc:creator> <category><![CDATA[Investment]]></category> <category><![CDATA[News]]></category> <category><![CDATA[Personal]]></category> <category><![CDATA[Tips and Tricks]]></category> <category><![CDATA[Today's Lesson]]></category><guid
isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=159</guid> <description><![CDATA[Reksadana rupanya benar-benar telah menjadi pilihan bagi orang-orang yang ingin mulai belajar berinvestasi. Banyak cara dilakukan orang untuk mencari informasi tentang bagaimana mulai berinvestasi melalui reksadana. Dan internet hanyalah salah satu media yang sangat mudah dan populer digunakan untuk belajar tentang reksadana secara mandiri. Kalau rajin browsing, kita akan menemukan banyak informasi di internet yang [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Reksadana rupanya benar-benar telah menjadi pilihan bagi orang-orang yang ingin mulai belajar berinvestasi. Banyak cara dilakukan orang untuk mencari informasi tentang bagaimana mulai berinvestasi melalui reksadana. Dan internet hanyalah salah satu media yang sangat mudah dan populer digunakan untuk belajar tentang reksadana secara mandiri. Kalau rajin browsing, kita akan menemukan banyak informasi di internet yang bisa kita jadikan referensi dalam belajar reksadana.</p><p><span
id="more-159"></span></p><p>Ketika pertama kali akan <a
href="http://hilmiarifin.com/menjadi-investor-reksadana/">menjadi investor reksadana</a>, saya sempat mengunduh beberapa materi tentang reksadana dan investasi. Saya mencoba untuk mengumpulkannya kembali dan kalau Anda berminat, silakan <a
href='http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/serbaserbirdinvestasi.rar'>mengunduhnya</a>. Namun, Anda juga bisa membeli buku tentang <a
href="http://nofieiman.com/2008/04/buku-memulai-investasi-reksadana/">reksadana</a> dan atau <a
href="http://nofieiman.com/2008/07/buku-investasi-untuk-pemula/">investasi</a>.</p><p>Semoga bermanfaat dan salam investor!</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/serba-serbi-investasi.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 14/43 queries in 0.012 seconds using disk: basic
Object Caching 1736/1784 objects using disk: basic

Served from: hilmiarifin.com @ 2012-05-23 03:51:17 -->
