Dari salah satu milis yang saya ikuti, saya memperoleh banyak sekali pencerahan dari mereka yang mau berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. So, tidak ada salahnya saya pun berbagi dengan para pembaca blog ini. Jangan pernah ragu untuk bergabung dengan banyak milis untuk terus berbagi dan belajar.
Reflection
Satu lagi arsip e-mail yang sangat menarik Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian
Salah satu kelebihan menggunakan software pembaca e-mail (saya menggunakan outlook) untuk membaca email adalah kita bisa menyimpan e-mail dalam hard disk komputer kita dan membacanya secara offline, sehingga sewaktu-waktu kita bisa membacanya kembali. Ketika membaca kembali arsip-arsip email yang saya simpan, ketemu dengan artikel di bawah ini yang sangat bagus untuk menjadi bahan renungan.
Jika seorang anak bisa membantu, mengapa “kita yang lebih baik” tidak? Ia berjalan di depan meja ‘donation’, kami berpikir:’dia akan lewat…’ “Saya ingin menyumbang!” Ia menuang koin dari mangkuknya. Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu, tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.
Tadi pagi selepas Sholat Subuh, saya bertemu dengan seorang Bapak (sebut saja Beliau). Dari sejak azan Subuh ketika saya datang ke mesjid, Beliau selalu duduk di pojokkan saf kedua dan tampak khusu’ berdoa. Setelah selesai Sholat, beliau tetap berada di tempatnya dengan terdiam dan tampak sedang bertafakur. Ketika saya sedang menuju ke bawah (mesjid kami
Waktu terasa sangat cepat berlalu dan hari ini tepat satu tahun yang lalu saya menikah. Bagi kami berdua, satu tahun ini kami lewati dengan saling mengenal lebih dalam diri kami masing-masing, karena memang kami tidak mengenal masa pacaran sebelum menikah.
Keberadaan saya di Jakarta dan menjadi PJKA ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini memang diluar perhitungan saya sebelumnya. Saya sebenarnya berharap mendapatkan beasiswa di Jogja, sehingga tambahan pengeluarannya tidak terlalu menganggu kondisi keuangan saya. Namun apa daya, saya harus sekolah di Jakarta. Mau tidak mau hal ini menuntut saya untuk mengevaluasi kembali alokasi
Perayaan menyambut Tahun Baru 2008 yang begitu meriah belum hilang dari ingatan, kaum muslimin di seluruh dunia kembali menyambut datangnya tahun baru, yaitu Tahun Baru Hijriyah 1429. Momentum dua tahun baru seakan mengingatkan setiap muslim untuk senantiasa rajin mengevaluasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup yang seimbang, di dunia dan akherat.
Setelah mengevaluasi tahun 2007, saatnya untuk menulis resolusi tahun 2008. Target apa yang ingin dicapai di tahun tikus dalam upaya meningkatkan kualitas hidup ini. Keluarga, pekerjaan, bisnis, pendidikan, investasi, termasuk kehidupan beragama pada tahun mendatang akan sangat bergantung dengan target-target yang kita buat di awal tahun, tentunya disertai dengan kerja keras, cerdas, dan ikhlas sehingga
Sebagaimana kebanyakan orang, saya pun melewati pergantian tahun 2007 dengan melakukan berbagai evaluasi. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mengetahui sampai seberapa jauh pencapaian di tahun 2007, mana target yang dapat dicapai, mana yang belum, dan mana yang perlu ditingkatkan. Secara umum, pada tahun 2007 ini saya mengalami perubahan hidup yang sangat signifikan dengan keputusan
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”. Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap
Hilmi Arifin, biasa dipanggil 




