≡ Menu
hilmiaRIFIN

Sebuah Kisah Tentang EMPATI

in Reflection

Kisah Dermawan Abdullah bin Ja'far Di dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, Imam Ghazali pun menceritakan riwayat Abdullah bin Ja’far yang terkenal dermawan itu. Beliau adalah putera dari Ja’far bin Abu Thalib, pahlawan yang tewas dalam perang Mu’tah. Suatu kali dia berjalan-jalan pergi memeriksa kebun-kebunnya. Karena hari panas, berhentilah dia melepaskan lelah pada sebuah kebun kepunyaan orang lain. Di sana ada penjaganya seorang budak hitam.

Sedang hari panas terik itu, tiba-tiba masuklah seekor anjing ke pekarangan kebun itu, sedang lidahnya sudah hampir terjela, karena haus dan laparnya. Digoyang-goyangkan ekornya menghadap kepada budak hitam itu minta dikasihani. Di tangan budak hitam itu ada tiga buah roti. Lalu dilemparkannya sebuah. Anjing itu memakannya sampai habis. Setelah habis dia menengadah lagi, meminta lagi. Dilemparkannya pula sepotong lagi, dan dimakan habis lagi oleh anjing itu. Dan dia menengadah lagi, meminta lagi. Lalu dilemparkannya pula, roti satu-satunya yang masih tinggal dalam tangannya dan tidak ada lagi yang lain. Anjing itu pun sudah kenyang, lalu meninggalkan tempat itu. Sedang budak hitam tadi, tidak lagi mempunyai persediaan roti, telapak tangannya telah disapukannya ke celananya.

Abdullah bin Ja’far lalu memanggil budak itu dan bertanya,”Hai Anak! Berapa engkau mendapat pembagian makanan dari tuanmu satu hari ?”

Anak itu menjawab,”Sebanyak yang bapak lihat itulah.” (tiga potong roti).

Beliau bertanya pula,”Mengapa lebih kau pentingkan makanan buat anjing itu daripada dirimu sendiri?”

Dia menjawab,”Hamba lihat anjing itu bukanlah anjing sekeliling tempat ini. Tentu dia datang dari tempat jauh, mengembara karena kelaparan. Maka tidaklah hamba sampai hati melihatnya pergi dengan lapar dan tidak berdaya lagi.”

Beliau bertanya,”Apa yang engkau makan hari ini?”

Budak itu menjawab,”Biar hamba pererat ikat pinggang hamba.”

Mendengar jawaban yang demikian, termenunglah Abdullah bin Ja’far dan berkatalah ia kepada dirinya sendiri,”Sampai dimana aku dikenal sebagai seorang pemurah dan dermawan, padahal budak ini lebih daripadaku. Bersedia dia memberikan makanan yang akan dimakannya satu hari, hanya karena tidak tahan melihat seorang anjing yang nyaris mati kelaparan.”

Lalu dimintanya kepada anak itu supaya ditunjukkan rumah orang yang punya kebun yang dipeliharanya itu. Setelah bertemu orang itu, ditawarnyalah kebun itu. Setelah cocok harganya, langsung dibayarnya. Lalu ditawarnya pula budak penjaga kebun itu dan setelah cocok harga dibayarnya dan dibelinya pula segala alat perkebunan itu. Setelah selesai semua, kembalilah dia ke tempat budak itu, lalu katanya,”Kebun ini telah kubeli dari tuanmu yang lama dan engkaupun telah kubeli pula. Mulai saat ini engkau aku merdekakan dari perbudakan dan kebun ini aku hadiahkan kepadamu. Hiduplah engkau dengan bahagia di dalam memelihara kebunmu ini.”

Tercengang dan terharu budak itu memandang kedermawanan yang demikian tinggi, padahal bagi Abdullah bin Ja’far masih dirasakan, bahwa kedermawanan budak itu masih lebih tinggi dari pada kedermawanan dirinya sendiri.

Sumber

0 comments… add one

Leave a Comment