This post was published 3 years 7 months 2 days ago which may make its actuality or expire date not be valid anymore. This site is not responsible for any misunderstanding.Pada berbagai program pemberdayaan yang bersifat parsial, sektoral dan charity yang pernah dilakukan, sering menghadapi berbagai kondisi yang kurang menguntungkan, misalnya salah sasaran, menumbuhkan ketergantungan masyarakat pada bantuan luar, terciptanya benih-benih fragmentasi sosial, dan melemahkan kapital sosial yang ada di masyarakat (gotong royong, musyawarah, keswadayaan, dll). Lemahnya kapital sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perubahan perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian, kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama.
Kondisi kapital sosial dan perilaku masyarakat yang melemah serta memudar tersebut salah satunya disebabkan oleh keputusan, kebijakan dan tindakan dari pengelola program pemberdayaan dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang selama ini cenderung tidak berorientasi kepada masyarakat golongan ekonomi lemah, tidak adil, tidak transparan dan tidak tanggung gugat. Hal yang demikian akan menimbulkan kecurigaan, kebocoran, stereotype dan skeptisme di masyarakat, akibat ketidakadilan tersebut. Keputusan, kebijakan dan tindakan yang tidak adil ini dapat terjadi pada situasi tatanan masyarakat yang belum madani, yang salah satu indikasinya dapat dilihat dari kondisi kelembagaan masyarakat yang belum berdaya, yang tidak berorientasi pada keadilan, tidak dikelola dengan jujur serta terbuka dan tidak berpihak serta memperjuangkan kepentingan masyarakat lemah.
Kelembagaan masyarakat yang belum berdaya tersebut pada dasarnya disebabkan oleh karakteristik lembaga masyarakat yang ada di masyarakat cenderung tidak mengakar dan tidak representatif. Di samping itu, ditengarai pula bahwa berbagai lembaga masyarakat yang ada saat ini dalam beberapa hal lebih berorientasi pada kepentingan pihak luar masyarakat atau bahkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, sehingga mereka kurang memiliki komitmen dan kepedulian pada masyarakat di wilayahnya. Dalam kondisi ini akan semakin mendalam krisis kepercayaan masyarakat terhadap berbagai lembaga masyarakat yang ada di wilayahnya.
Kondisi kelembagaan masyarakat yang tidak mengakar, tidak representatif dan tidak dapat dipercaya tersebut pada umumnya tumbuh subur dalam situasi perilaku/sikap masyarakat yang belum berdaya. Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyikapi dan menghadapi situasi yang ada di lingkungannya, yang pada akhirnya mendorong sikap skeptisme, masa bodoh, tidak peduli, tidak percaya diri, mengandalkan bantuan pihak luar untuk mengatasi masalahnya, tidak mandiri, serta memudarnya orientasi moral dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu terutama keikhlasan, keadilan dan kejujuran.
Kemandirian lembaga masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun lembaga masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum ekonomi lemah, yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal agar lebih berorientasi ke masyarakat miskin (pro poor) dan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance), baik ditinjau dari aspek sosial, ekonomi maupun lingkungan, termasuk perumahan dan permukiman.
Gambaran lembaga masyarakat seperti dimaksud di atas hanya akan dicapai apabila orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin masyarakat tersebut merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli, memiliki komitmen kuat, ikhlas, relawan dan jujur serta mau berkorban untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk mengambil keuntungan bagi kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah, karena upaya-upaya membangun kepedulian, kerelawanan, komitmen tersebut pada dasarnya terkait erat dengan proses perubahan perilaku masyarakat.
(disarikan dari www.p2kp.org)
Hilmi Arifin, biasa dipanggil 

{ 23 comments… read them below or add one }
← Previous Comments
merdeka
trims sebelumnya,tuk menjadi sesorang penyuluh pertanian harus menguasai teknik pemberdayaan masyarakat. untuk itu terima kasih atas artikel ini sebagai bahan dalam tugas akhir saya dalam mendesain pemberdayaan bagi kemandirian masyarakat.amin
Mas, sepertinya artikel ini ada di program p2kp… Jika ingin tau lbh lanjut silahkan kunjungi http://www.p2kp.org. Salam hangat…
Artikelnya memberikan inspirasi tersendiri buat saya, pasalnya peranan lembaga pemberdayaan masyarakat di daerah saya, kurang memberikan bukti nyata terhadap perubahan dinamika ekonomi masyarakat yang nyaris terhampar di gerbang kemiskinan tanpa batas waktu, karena tidaknya adanya potensi SDM yang memadai serta SDA yang cukup memprihatinkan, hal inilah yang membuat saya tergugah terhadap masa depan daerah saya, bagaimana gambaran LPM tingkat desa dalam memajukan segala aspek hidup masayarakat dari semua sudut pandang baik dalam bidang pertanian, kesehatan , pendidikan dan Home industry dalam peningkatan pendapatan masyarakat serta apa solusinya terhadap masyarakata yang ada di daerah saya. wass.Email: syam hanafing_makassartv.co.id. saya tunggu solusinya bang….
mas kok kayak PNPM Mandiri ya…hehehe…jangan2 situ fasilitator ya…
saya kan pns, mosok nyambi jadi fasilitator, gak mungkin lah…
ahli pemberdayaan masyarakay umumnya dari disiplin ilmu apa saja mas?
tergabung dalam asosiasi profesi apa dan apakah sudah ada sertifikasi profesinya.?
thanks for the info
Memang kita harus pintar-pintar untuk mencari pemimpin yang peduli
← Previous Comments
{ 1 trackback }