≡ Menu
hilmiaRIFIN

Pasar Tradisional vs Pasar Modern

in Opini

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pasar modern dewasa ini sudah menjadi tuntutan dan konsekuensi dari gaya hidup modern yang berkembang di masyarakat kita. Tidak hanya di kota metropolitan tetapi sudah merambah sampai kota kecil di tanah air. Sangat mudah menjumpai minimarket, supermarket bahkan hipermarket di sekitar tempat tinggal kita. Tempat-tempat tersebut menjanjikan tempat belanja yang nyaman dengan harga yang tidak kalah menariknya. Namun di balik kesenangan tersebut ternyata telah membuat para peritel kelas menengah dan teri mengeluh. Mereka dengan tegas memprotes ekspansi yang sangat agresif dari peritel kelas besar itu.

Protes yang dilakukan para peritel berkantong tipis tersebut sebenarnya lebih ditujukan kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah, sebagai pengambil kebijakan untuk mengatur persaingan yang lebih fair. Memang, setelah peritel kelas kakap saling tidak mau kalah dalam mengembangkan bisnisnya di berbagai tempat, termasuk ke wilayah permukiman melalui minimarket, tidak sedikit pengecer atau toko kelontong yang merasa omset penjualannya menurun.

Keberadaan pasar, khususnya yang tradisional, merupakan salah satu indikator paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Pemerintah harus concern terhadap keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu sarana publik yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup yang dipromosikan begitu hebat oleh berbagai media telah membuat eksistensi pasar tradisional menjadi sedikit terusik. Namun demikian, pasar tradisional ternyata masih mampu untuk bertahan dan bersaing di tengah serbuan pasar modern dalam berbagai bentuknya. Kenyataan ini dipengaruhi oleh beberapa sebab.

Karakter/Budaya Konsumen. Meskipun informasi tentang gaya hidup modern dengan mudah diperoleh, tetapi tampaknya masyarakat masih memiliki budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke pasar tradisional. Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara pasar tradisional dan pasar modern. Perbedaan itulah adalah di pasar tradisional masih terjadi proses tawar-menawar harga, sedangkan di pasar modern harga sudah pasti ditandai dengan label harga. Dalam proses tawar-menawar terjalin kedekatan personal dan emosional antara penjual dan pembeli yang tidak mungkin didapatkan ketika berbelanja di pasar modern.

Revitalisasi Pasar Tradisional. Pemerintah seharusnya serius dalam menata dan mempertahankan eksistensi pasar tradisional. Pemerintah menyadari bahwa keberadaan pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Perhatian pemerintah tersebut dibuktikan dengan melakukan revitalisasi pasar tradisional di berbagai tempat. Target yang dipasang sangat sederhana dan menyentuh hal yang sangat mendasar. Selama ini pasar tradisional selalu identik dengan tempat belanja yang kumuh, becek serta bau, dan karenanya hanya didatangi oleh kelompok masyarakat kelas bawah. Gambaran pasar seperti di atas harus diubah menjadi tempat yang bersih dan nyaman bagi pengunjung. Dengan demikian masyarakat dari semua kalangan akan tertarik untuk datang dan melakukan transaksi di pasar tradisional.

Regulasi. Pemerintah memang mempunyai hak untuk mengatur keberadaan pasar tradisional dan pasar modern. Tetapi aturan yang dibuat pemerintah itu tidak boleh diskriminatif dan seharusnya justru tidak membuat dunia usaha mandek. Pedagang kecil, menengah, besar, bahkan perantara ataupun pedagang toko harus mempunyai kesempatan yang sama dalam berusaha.

Persaingan antar peritel di Indonesia sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan orang. Persaingan tidak hanya terjadi antara yang besar melawan yang kecil, melainkan juga antara yang besar dengan yang besar, serta yang kecil dengan yang kecil. Pemerintah sebagai regulator harus mampu mewadahi semua aspirasi yang berkembang tanpa ada yang merasa dirugikan. Pemerintah harus mampu melindungi dan memberdayakan peritel kelas teri karena jumlahnya yang mayoritas. Di lain pihak, peritel besar pun mempunyai sumbangan besar dalam ekonomi. Selain menyerap tenaga kerja, banyak peritel besar yang justru memberdayakan dan meningkatkan kualitas ribuan pemasok yang umumnya juga pengusaha kecil dan menengah. Belum lagi konsumen yang kian senang menjadi raja yang dimanja. Bagi pemerintah, mencari keseimbangan antara yang besar dan yang kecil ini memang tidak mudah.

20 comments… add one
  • roni.kurniawan

    kayanya pemerintah menerapkan ekonomi kapitalis,yang kaya semakin kaya yang miskin ,,,,,ya gitu deh

  • Syahira Dana

    makasii inponya yahh,,, berguna banget neee !!!!!!!! TA

  • yoshua

    nie tugas yg sulit yg di berikan guru…tapi sangat membantu dalam bidang ekonomi..!

  • terima kasih., artikel ini sangat membantu dalam pencarian materi debat untuk saya.,
    😀

  • Miki

    Ini tugas saya,Pak Guru,

    Miki Dwi K

  • Ada kepuasan tersendiri berbelanja di pasar tradisional. 🙂

  • marjiin syam

    kami ini juga pengelolah pasar tradisinal,dengan menjamurnya pasar modern malahan berdekatan dengan pasar yg saya kelolah yang juga banyak spt mini market yg masuk kampung,kami beserta teman teman tetap berusaha agar tetap bisa bertahan,bersaing dengan mereka dengan segala cara;baik kebersihan,keamanan dan kemudahan yg lain selalu kita evaluasi terus menerus. namum disisi lain kalau pemerintah tetap tutup mata dengan keadaan ini ,sampai kapan wong cilik bisa bertahan dengan pertarungan ini( pemodal besar

  • GUNAWAN NUGROHO UTOMO

    MAS ARIF…BANYAK KALANGAN YANG MULAI GEMES DAN PEDULI DENGAN PASAR MODERN…APALAGI MENJELANG PIL PRES KEMAREN…BANYAK PAHLAWAN KESIANGAN SEOLAH-OLAH PEDULI BGT DENGAN PASAR MODERN….KALO PUNYA REFERENSI ATAU APAPUN JUGA…MOHON SAYA DI SHARE BOS…OK…MATURNUWUN…WASALAM..

  • Kepal Dinas Pasar Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur Telah menulis Buku tentang Pasar Tradisional Yang berjudul “Jangan Pandang Sebelah Mata”. Yang di terbitkan Universitas Veteran Surabaya ( UPN Press). Sebagai Editor saudara M. Rizal yang sekaligus Distributor tunggal buku tesebut. Rekan-rekan yang berminat dapat menggati ongkos cetak Rp. 50.000-. buku di kirim Via Pos. silahkan menghubungi alamat ini annadia_sam@yahoo.com atau SMS 081357061478. Teks

    Sesuai judul buku, jangan pandang sebelah mata keberadaan Pasar trdisional. Disitulah mata pusat perputaran uang masayarakat kecil-menengah dan sewkaligus lahan mata pencarian rakyat kecil. Mulai pedagang kaki lima, pedagang asongan, petani, buruh angkut hingga pejabat daerah saat mereka masih memuliki pendapat yang belum memadai. Mereka berkumpul membaur jadi satu dan berinteraksi sehingga mengikat rasa kebersamaan. Tak heran tertkadang mereka yang dulunnya biasa berbelanja di pasar trdisional setelah berhasil secara ekonomi terkadang menyempatkan diri berbelanja di pasar trdisional tempat ia pernah berbelanja dahulu.

    Yang utam pasar tradisional yang di kelola oleh pemerintah daerah masih merupakan Andalan Perndapatan asli Daerah. Dalam buku tersebut juga di ceritakan bagaimana mengelola pasar tradisional agar tetap eksis sejajar dengan pasar modern, mini market, supermarket. Pemerrintah daerah selaku pembuat kebijakan harus bersikap arif dalam mengeluarkan ijin pendirian minimarket yang berada berdekatan dengan pasar tradisional. Sikap pengketatan dan memperhatikan jarak mini markert dengan pasar tradidisional sangan berpengaruh kelangsungan dan eksistensi pasar yang merupakan ladang mata pencariahan masyarakat kecil dan menengah ini di tengah-tengah pemeberdayaan ekonomi rakyat di era otonomi daerah.

  • rinto miu

    saya ingin tahu lebih banyak tentang peranan pasar tradisional terutama yang ada kaitannya dengan ekonomi islam.

  • krez

    Pasar Tradisional, nasibmu malang!pedagang kecil eksistensimu terkucil.Kenyataan sekarang yang besar dibantu yang kecil, yang kecil membesarkan yang besar, giliran yang besar menindas yang kecil, yah nasib.
    coba bayangkan saewa tempat (toko minimarket)20.000.000 per tahun = 1.666.000./bulan, pengusaha minimarket menyewakan gerai depan tokonya ke tukang ba’wan / tahu isi, gorengan singkong, burger,5 space aja x 300.000 = 1.500.000, jadi itu bos mini market hanya ngeluarin kontrak utk toko yg besar itu 1.666.000 – 1.500.00 = 1.66.000, contoh lain kalau UKM menawarkan barang ke pasar modern harus bayar listingvie yang nilainya jutaan rupiah, barangnya nanti dibayar pake giro 3 bulan, gila kan?

  • Indra A

    memang sulit mencari keseimbangan antara pasar tradisional dan modern tanpa menghlangkan hak dasar manusia untuk bekerja. Karena dalam iklim investasi seperti sekarang kepala daerah pun minta jatah untuk mengisi rekening pribadi dari investasi tersebut…

  • nadia rahadini

    ada versi bhs inggrisnya ga?sy perlu untuk bahan tugas saya.sy liat artikel ini cocok dan sangat menarik untuk sy jadikan tugas.apa perbedaan antara pasar tradisional dgn pasar modern?

    • silakan menterjemahkan sendiri ke bahasa inggris kalo memang memerlukannya 🙂

  • Nana

    saya mau tanya tentang konsep-konsep atau teori tentang pasar tradisional dan modern..Judul skripsi saya tentang peran pemerintah dalam perlindungan pasar tradisional ditengah persaingannya menghadapi pasar modern. Kira-kira tinjauan pustaka yang perlu saya cari yang gimana?makasih

    • saya belum pernah baca buku yang membahas secara khusus konsep/teori tentang pasar modern dan tradisional. penjelasan tentang pasar secara umum saya peroleh pada buku-buku teori ekonomi. terkait peran pemerintah Nana bisa mencoba mengkajinya dari aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah, baik pusat maupun daerah. saat ini lagi hangat dibicarakan aturan dari pusat tentang pasar yang tidak kunjung selesai meski sudah dibahas selama >3,5 tahun. silakan Nana mengikuti perkembangannya, tentu akan lebih oke skripsinya.

  • ninik

    boleh saya minta konsep pasar yang ideal juga?untuk bahan skripsi saya.kalo bisa secepatnya ya.trimakasi.maaf merepotkan

    • herlina

      Pemerintah kita sdh menjadi pemerintah kapitalis, kurang berpihak pada masyarakat banyak, nanti kalau sudah tatanan masyarakatnya hancur baru nyaho (tau)
      setelah semua kita dikuasai asing.

  • Taufik Kurrohman

    melihat kebijakan tentang pasar tradisional di daerah saya, nampaknya pemerintah daerah masih tidak mengindahkan peranan pasar tradisional, ketika diskusi dengan pihak eksekutif dan legislatif banyak alasan untuk pembenaran, ujung-ujungnya mereka menantang kita untuk mencari format pasar ideal yang mampu exist di tengah serangan pasar modern. yang saya ingin tanyakan adalah format pasar tradisional yang ideal serta tahapan-tahapan yang harus dilakukan apa saja? terima kasih atas balasannya

Leave a Comment