≡ Menu
hilmiaRIFIN

Mengelola Cash Flow

in Money

Keberadaan saya di Jakarta dan menjadi PJKA ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini memang diluar perhitungan saya sebelumnya. Saya sebenarnya berharap mendapatkan beasiswa di Jogja, sehingga tambahan pengeluarannya tidak terlalu menganggu kondisi keuangan saya. Namun apa daya, saya harus sekolah di Jakarta. Mau tidak mau hal ini menuntut saya untuk mengevaluasi kembali alokasi pengeluaran belanja bulanan.

Saya mulai mengevaluasi pos-pos belanja yang bisa dikurangi. Selain biaya internet, saya agak tertolong dengan perubahan tarif telpon per April 2008 yang lalu. Kalo pada pos biaya internet saya bisa menghemat 40%, maka biaya komunikasi bisa berkurang sampai 50% dengan satu handphone dari sebelumnya dua handphone. Telkom flexi saya nonaktifkan karena selama ini saya hanya menggunakannya untuk komunikasi lokal dengan teman-teman kerja di Yogyakarta.

Banyak rencana yang harus berubah, termasuk investasi. Salah satunya, rencana saya untuk rutin berinvestasi di reksa dana. Rencana ini terpaksa saya evaluasi kembali, baik dari sisi frekuensi maupun alokasi anggarannya, sembari menunggu cash flow yang lebih baik.

Saya pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa dana beasiswa akan diberikan per tiga bulanan dan menurut pengalaman tidak akan pernah tepat waktu. Kalau hanya mengandalkan gaji PNS saya jelas tidak cukup, sehingga saya pun harus berutang pada tabungan. Padahal, tabungan ini akan digunakan untuk merealisasikan rencana saya dan istri untuk mulai hidup mandiri dengan menempati rumah sendiri. Rencana ini Insya Allah akan tetap kami laksanakan dalam waktu dekat karena istri sudah mantap untuk mandiri meski harus sendirian ketika saya di Jakarta.

Selama hampir 4 bulan ini, kondisi keuangan saya dan keluarga memang bisa masuk kategori tidak sehat, karena tidak ada dana untuk investasi dan dana cadangan. Namun saya masih bersyukur hanya mempunyai utang kepada tabungan. Saya hanya berharap urusan cash flow ini tidak akan mengganggu konsentrasi saya dalam belajar.

3 comments… add one
  • Hampir-hampir mirip dengan hidupku Mas Hilmi. Kemarin (2004-2006)saya kuliah magister di surabaya rasanya senang tapi juga berat. Senang karena dapat melewati awal-awal pernikahan di kos yang sempit tapi membahagiakan. Berat karena cashflow itu tadi. Pada awalnya sih gak terlalu sering bolak-balik jogja-sby; tapi saat penelitian, seminggu sekali harus bolak-balik. Alhasil biaya hidup dari beasisiwa habis di bus jurusan jogja-sby.
    Tapi overall, hidup ini tetap indah walaupun masih ‘merangkak’ menuju kemapanan.
    Ok, selamat menikamti kuliah yang menyenangkan…
    Salam buat keluarga, Asrofi nang ndi saiki?

    • piye kabarmu? saiki manggon neng ndi? asrofi saiki kerjo neng semarang, weekend juga pulang ke jogja.
      salam juga buat keluarga

      • woh njenengan pancen saudara kembarnya mas rofi tho?

        wah jan baru tau kalau mas rofi punya kembaran, pantesan mirip banget….
        salam buat mas rofi, di kalimatan sekarang ya?

        salam kenal hanjar

Leave a Comment