≡ Menu
hilmiaRIFIN

Kerja Itu Cuma Selingan, Untuk Menunggu Waktu Shalat

in Reflection

Ketika Pak Heru memerintahkan Budi untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran Budi sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera Budi menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya Budi menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an (wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. “Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.” cerita Pak Azis. “Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres dan selalu tidak tenang. “Seperti orang patah hati, Bud. Makan tidak enak, tidur juga susah.” cerita Pak Azis lagi.

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut, beliau bertanya dalam hati : “apa sih yang kurang” apa salahku?”

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam “Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi. “Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

“Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”
“Lebih tenang? Memang Pak Azis dapat hikmah apa dari tidur di masjid itu?”

“Di masjid itu kan tidak sekedar tidur, Bud. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Bud.”

“Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?”
“Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bahwa yg utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja.”

“Selingan?”
“Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Bud.”

Untuk beberapa lama Budi terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak Budi untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan Budi lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak Budi: “Kerja itu cuma selingan, Bud. Untuk menunggu waktu shalat…”

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, Budi merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh Budi, bahwa setelah perenungan itu, Budi merasa sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, Budi lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, malah Budi cenderung lebih mementingkan pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…(sungguh Budi orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri. Itulah penyebab dari kegersangan hidup Budi selama ini. Budi lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan Budi tinggalkan.. juga. kenapa Budi begitu bodoh..

Budi lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Mulai saat itu Budi berjanji untuk mulai shalat di awal waktu.

3 comments… add one
  • saya banyak masukkan setelah membaca blog anda.

  • jef

    paragraf 1 – 2, masih nyambung
    setelah masuk paragraf 3 dst.., jalan ceritanya koq aku bingung yah ?

    • mas, silakan dibaca kembali pelan-pelan, paragraf 3 dst justru merupakan inti ceritanya

Leave a Comment

Next post:

Previous post: