<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hilmiarifin &#187; Life</title>
	<atom:link href="http://hilmiarifin.com/category/life/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hilmiarifin.com</link>
	<description>never too late for learning</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Apr 2010 23:42:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tolong Mandikan Aku, Bunda&#8230;</title>
		<link>http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda/</link>
		<comments>http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 06:12:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Daily]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Today's Lesson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Zarah by Nafis Ahmad Nice story&#8230;Everything&#8217;s start from home&#8230;Artikel ini saya dapat dari sebuah milis, walaupun hanya copy paste tapi mudah-mudahan bermanfaat. Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px;">
<p><a  rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.flickr.com/photos/kapurush/4101696559/"><img class="alignnone" title="Zarah" src="http://farm3.static.flickr.com/2508/4101696559_a7d4e0d904.jpg" alt="Zarah" width="500" height="387" /></a></p>
<p class="wp-caption-text"><a  rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.flickr.com/photos/kapurush/4101696559/">Zarah</a> by <a  rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.flickr.com/photos/kapurush/">Nafis Ahmad</a></p>
</div>
<p>Nice story&#8230;Everything&#8217;s start from home&#8230;Artikel ini saya dapat dari sebuah milis, walaupun hanya copy paste tapi mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<blockquote><p>Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. &#8221;Why not to be the best?,&#8221; begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.</p>
<p>Ketika kampus mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.</p>
<p><span id="more-750"></span></p>
<p>Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang &#8220;selevel&#8221;, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.</p>
<p>Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang  sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, &#8220;Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya?&#8221; Dengan sigap Dewi menjawab, &#8220;Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna&#8221;. &#8220;Everything is OK! Dont worry. Everything is under control  kok!&#8221; begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.</p>
<p>Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.</p>
<p>Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. &#8220;Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda&#8221;. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.</p>
<p>Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya di rumah apabila ia merasa kesepian.</p>
<p>Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau &#8221;memahami&#8221; orangtuanya.</p>
<p>Dengan bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.</p>
<p>Bahkan, tutur Dewi pada saya, Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.</p>
<p>Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,&#8221;Bunda aku ingin mandi sama bunda&#8230;please&#8230;please bunda&#8221;, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.</p>
<p>Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.</p>
<p>Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. &#8220;Bunda, mandikan aku!&#8221; Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja&#8230;?&#8221; kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.</p>
<p>Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, &#8220;Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di ruang emergency&#8221;.</p>
<p>Dewi, ketika diberitahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang&#8230;terlambat sudah&#8230;Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.</p>
<p>Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata &#8220;Ini Bunda Nak&#8230;.hari ini Bunda mandikan Bayu ya&#8230;sayang&#8230;.! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..&#8221;</p>
<p>Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.</p>
<p>Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil.</p>
<p>Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, &#8220;Inikan sudah takdir, ya kan..!&#8221; Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di  panggil, ya dia pergi juga, iya kan?&#8221; Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.</p>
<p>Sementara di sebelah kanannya, suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat  pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.</p>
<p>Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, &#8220;Inilah konsekuensi sebuah pilihan!&#8221; lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.</p>
<p>Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa diduga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. &#8220;Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak&#8230;? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.</p>
<p>Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.</p>
<p>Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris &#8220;Bangunlah Bayu sayaaangku&#8230;.bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak&#8230;..?!?&#8221; pintanya berulang-ulang, &#8220;Bunda mau mandikan kamu sayang&#8230;.tolong beri kesempatan Bunda sekali saja Nak&#8230;.sekali ini saja, Bayu..anakku&#8230;?&#8221; Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras  membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.</p>
<p>Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat menusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini&#8230;tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar memandikan seorang anak.</p></blockquote>
<p>Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.</p>
<p>Semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua&#8230;saya hanya melanjutkan berita ini&#8230;moga-moga banyak yang baca dan makin peduli bahwa anak itu titipan Tuhan yang sangat berarti dan bermakna serta harus dijaga.</p>
<hr />
<p><small>© <a href="http://hilmiarifin.com">hilmiarifin</a>, 2010 |
<a href="http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda/">Permalink</a> |
<a href="http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda/#comments">One comment</a>
<br/>
Post tags: <a href="http://hilmiarifin.com/tag/daily/" rel="tag">Daily</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/life/" rel="tag">Life</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/reflection/" rel="tag">Reflection</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/todays-lesson/" rel="tag">Today's Lesson</a><br/>
</small></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/tolong-mandikan-aku-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan</title>
		<link>http://hilmiarifin.com/kesempatan/</link>
		<comments>http://hilmiarifin.com/kesempatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 01:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Online Business]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Today's Lesson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah perjalanan dinas, seorang manajer dan stafnya yang masih muda menumpang kereta api jurusan Bandung-Jakarta. Tempat duduk yang tersisa hanyalah di depan wanita muda yang cantik dan neneknya. Sang manajer dan stafnya duduk berhadapan dengan kedua wanita tersebut (bangku kereta mirip kelas ekonomi sekarang). Sementara kereta api berjalan, keempat orang ini mencoba menyesuaikan diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><a  href="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/kesempatan03.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-472" title="Kesempatan" src="http://hilmiarifin.com/wp-content/uploads/kesempatan03.jpg" alt="kesempatan03" width="235" height="299" /></a>Dalam sebuah perjalanan dinas, seorang manajer dan stafnya yang masih muda menumpang kereta api jurusan Bandung-Jakarta. Tempat duduk yang tersisa hanyalah di depan wanita muda yang cantik dan neneknya. Sang manajer dan stafnya duduk berhadapan dengan kedua wanita tersebut (bangku kereta mirip kelas ekonomi sekarang). Sementara kereta api berjalan, keempat orang ini mencoba menyesuaikan diri dengan membuka percakapan.</p>
<p>Percakapan mulai terbuka, hingga tanpa terasa kereta yang mereka tumpangi mulai memasuki terowongan Sasaksaat. Entah mengapa, lampu dalam gerbong kereta tiba-tiba tidak menyala. Tak ayal lagi, seluruh gerbong pun menjadi gelap gulita.</p>
<p><span id="more-471"></span></p>
<p>Untuk beberapa lama, keempat orang ini dan tentunya penumpang yang lain diliputi kegelapan total. Mereka hanya ditemani oleh deru lokomotif serta bunyi roda kereta api. Dalam kesunyian sesaat itu, disamping mendengar deru kereta api, keempat orang yang duduk berdekatan itu mendengar suara lain yang cukup keras, yakni sebuah ciuman dan sebuah tamparan.</p>
<p>Setelah melewati terowongan yang gelap tersebut, keempat orang itu mulai menerjemahkan bunyi ciuman dan tamparan tadi dengan persepsi masing-masing.</p>
<p>Si wanita muda berpikir,Saya merasa tersanjung, manajer yang berdasi di depan saya ini telah mencium saya, namun saya sangat malu karena nenek menamparnya.</p>
<p>Sedangkan neneknya berpikir,Saya kesal karena orang muda itu mencium cucu saya, tetapi saya bangga karena cucu saya punya keberanian untuk membalasnya.</p>
<p>Di pihak lain, sang manajer duduk diam sambil berpikir,Staf saya telah memperlihatkan keberanian yang besar untuk mencium gadis yang belum dikenalnya, tetapi kenapa gadis itu keliru menampar saya?</p>
<p>Tampaknya, hanya staf itu satu-satunya orang yang tahu apa sesungguhnya yang terjadi, sebab dalam waktu yang singkat dia mempunyai kesempatan untuk mencium seorang gadis cantik sekaligus menampar manajernya.</p>
<hr />
<p><small>© <a href="http://hilmiarifin.com">hilmiarifin</a>, 2009 |
<a href="http://hilmiarifin.com/kesempatan/">Permalink</a> |
<a href="http://hilmiarifin.com/kesempatan/#comments">No comment</a>
<br/>
Post tags: <a href="http://hilmiarifin.com/tag/entrepreneurship/" rel="tag">Entrepreneurship</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/life/" rel="tag">Life</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/online-business/" rel="tag">Online Business</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/reflection/" rel="tag">Reflection</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/todays-lesson/" rel="tag">Today's Lesson</a><br/>
</small></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/kesempatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pohon Apel</title>
		<link>http://hilmiarifin.com/pohon-apel/</link>
		<comments>http://hilmiarifin.com/pohon-apel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 13:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Today's Lesson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilmiarifin.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.</p>
<p><span id="more-348"></span></p>
<p>Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. &#8220;Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,&#8221; pinta pohon apel itu. &#8220;Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya&#8221;.</p>
<p>Pohon apel itu menyahut, &#8220;Duh, maaf aku pun tak punya uang&#8230; tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu&#8221;. Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.</p>
<p>Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. &#8220;Ayo bermain-main denganku lagi,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Aku tak punya waktu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,&#8221; kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.</p>
<p>Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. &#8220;Ayo bermain-main lagi denganku,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Aku sedih,&#8221; kata anak lelaki itu. &#8220;Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah&#8221;.</p>
<p>Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.</p>
<p>Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. &#8220;Maaf anakku,&#8221; kata pohon apel itu. &#8220;Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,&#8221; jawab anak lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,&#8221; kata pohon apel. &#8220;Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,&#8221; jawab anak lelaki itu. &#8220;Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,&#8221; kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.</p>
<p>&#8220;Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,&#8221; kata anak lelaki. &#8220;Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.&#8221; Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.</p>
<p>Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<blockquote><p>Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.</p></blockquote>
<p>Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.</p>
<p><strong>Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita</strong>. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.</p>
<p><em>Sumber: unknown</em></p>
<hr />
<p><small>© <a href="http://hilmiarifin.com">hilmiarifin</a>, 2008 |
<a href="http://hilmiarifin.com/pohon-apel/">Permalink</a> |
<a href="http://hilmiarifin.com/pohon-apel/#comments">One comment</a>
<br/>
Post tags: <a href="http://hilmiarifin.com/tag/learning/" rel="tag">Learning</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/life/" rel="tag">Life</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/reflection/" rel="tag">Reflection</a>, <a href="http://hilmiarifin.com/tag/todays-lesson/" rel="tag">Today's Lesson</a><br/>
</small></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilmiarifin.com/pohon-apel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
