≡ Menu
hilmiaRIFIN

BPR : Dari, Oleh dan Untuk Rakyat

in Opini

Perkembangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sangat dipengaruhi oleh perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang keberadaannya semakin lama semakin banyak tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dimengerti karena pangsa pasar utama dari BPR adalah masyarakat menengah bawah. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kehadiran dan perkembangan BPR kemudian tidak layak untuk diperhitungkan. Walau bagaimanapun sudah sewajarnya kita mengangkat topi kepada para pengusaha UMKM, karena merekalah yang mampu bertahan dalam menghadapi badai krisis moneter di Indonesia pada tahun 1998. Selain itu bukankah banyak para pengusaha besar yang merintis bisnisnya dari skala rumahan yang akhirnya berkembang menjadi bisnis dengan skala nasional bahkan internasional. Ditambah lagi ternyata devisa ekspor kita tidak sedikit yang merupakan kontribusi dari eksportir berskala UMKM. Perjalanan bisnis para pengusaha UMKM ini tentunya juga merupakan cerita sukses BPR sebagai lembaga keuangan mikro yang mengiringinya.

Menyadari perannya yang demikian, kehadiran BPR secara ideal di masyarakat seharusnya tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan juga jarak. Kondisi seperti ini seharusnya menjadi kesadaran bersama para pelaku BPR. Kesadaran yang demikian akan memunculkan semangat baru bagi pelaku BPR dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya, sehingga mereka tidak perlu merasa cemas dan pesimis terhadap perkembangan usaha BPR-nya. Kesadaran ini pada akhirnya akan menumbuhkan komitmen bersama bahwa mereka (BPR dan pengusaha) harus mampu untuk maju bersama-sama dalam meraih keberhasilan dan kesuksesan.

Sudah seperti menjadi fitrah dari BPR bahwa mereka mempunyai keunikan dalam hal pelayanan kepada para nasabahnya. Keunikan tersebut terletak pada fleksibilitas mereka dalam menggarap masyarakat ekonomi menengah bawah. Di tengah perkembangan dunia perbankan yang saling adu teknologi canggih dimana peran manusia lebih banyak digantikan oleh mesin, BPR justru memiliki potensi untuk lebih berkembang tanpa mengandalkan canggihnya suatu teknologi. Para pelaku BPR harus mampu mengoptimalkan kelebihan dan keunikan yang ada pada diri mereka. Kelebihan dan keunikan tersebut lebih banyak berada pada hal-hal yang berhubungan dengan sisi kemanusiaan. Contoh berikut akan memberikan gambaran yang lebih jelas. Kehadiran pelaku BPR untuk mau secara langsung datang menemui para nasabahnya tanpa disadari telah menegaskan arti penting “nguwongke” konsumen. BPR tidak memandang nasabah dengan ukuran berapa uang yang akan mereka pinjam atau simpan, sehingga transaksi yang terjadi bukan sekedar transaksi keuangan tetapi lebih dari itu yaitu interaksi antar dua insan yang saling membantu dan membutuhkan. Kemauan pelaku BPR untuk berbincang sejenak “ngaruhke” nasabah ketika melayani akan memberikan kesan yang mendalam, sehingga tidak ada jarak antara penerima dan pemberi uang yang tanpa disadari akan menggiring kedua pihak kepada suatu ikatan seperti layaknya sebuah keluarga yang saling memberikan perhatian.

Keunikan di atas hanya akan dapat dilakukan jika BPR mampu melepaskan dirinya dari batasan ruang, waktu dan jarak. Dalam dunia bisnis ketiga hal tersebut merupakan simbolisasi dari kantor, jam kerja dan wilayah operasional. Tidak berarti bahwa pelaku BPR harus bekerja di mana pun, kapan pun dan ke mana pun tanpa menggunakan sistem dan prosedur yang disusun secara sistematis. Kantor, jam kerja serta wilayah operasional harus dipahami secara utuh sebagai suatu sarana yang digunakan untuk mewujudkan misi yang diemban oleh BPR, yaitu berpartisipasi secara aktif dalam mengembangkan ekonomi masyarakat menengah bawah. Kantor haruslah dipahami sebagai tempat pelaku BPR menyiapkan segala sesuatunya dalam melayani kebutuhan masyarakat, bukan untuk membatasi interaksi kedua pihak. Jam kerja tidak membatasi pelaku BPR dalam berkarya tetapi mengatur irama pekerjaannya. Sedangkan wilayah operasional seharusnya tidak membuat pelaku BPR berpikiran sempit dalam melihat peluang pasar yang dapat digarap. Seandainya pelaku BPR mau dan mampu melepaskan dirinya dari batasan ruang, waktu dan jarak dapat dipastikan bahwa bisnis BPR akan berkembang lebih optimal dan membawa kemaslahatan tidak saja bagi masyarakat sekitar tetapi juga masyarakat secara luas.

Perlu disadari bahwa kemajuan dan perkembangan BPR tidak hanya bertumpu pada faktor-faktor seperti dikemukakan sebelumnya. Keunikan dan keunggulan yang dimiliki BPR harus diimbangi oleh para pelaku BPR dengan sikap profesional dan kehati-hatian dalam mengelola bank. Hal ini mendorong pelaku BPR untuk memperkuat manajemen pengelolaan dan meningkatkan efisiensi sehingga akan menghasilkan kinerja BPR yang lebih baik. Pada akhirnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada BPR akan menjadi semakin tinggi dan secara otomatis berimbas pada perkembangan dan kemajuan BPR sendiri. Dengan demikian para pelaku BPR tidak akan pernah lagi merasa gamang menatap masa depan BPR yang dimiliki atau dikelolanya. Misi utama BPR untuk ikut andil menumbuhkan dan mengembangkan ekonomi kerakyatan di tengah-tengah masyarakat dengan sendirinya akan dapat terwujud.

1 comment… add one
  • valentiana

    berbahagialah kita yang berkecimpung dalam industri BPR, dapat melayani wirausahawan2 sejati. namun yang harus diperhatikan adalah suku bunga yang diberikan harus dapat semurah2nya, dan itu belum terjadi. suku bunga bpr masih tinggi. saya sendiri mengelola bpr dengan niat ingin membantu para pengusaha kecil dgn memberikan bunga yang rendah namun dilain pihak dituntut oleh pemilik bank untuk bisa memberikan profit yang besar. dan saat bank umum mulai merambah sektor UMKM, banyak bpr yang menjerit karena merasa pasarnya direbut. padahal bank umum dapat memberikan bunga lebih rendah dibanding bpr. harusnya ada peraturan jelas yang memisahkan pasar bpr dan bank umum. sehingga diharapkan agar volume usaha bpr dapat bertambah dan imbasnya profit bisa besar walaupun bunga rendah. amin…

Leave a Comment